Selasa, 26 Oktober 2021

Di Kaki Tugu Khatulistiwa

Oleh: Pudji Widodo

Di kaki tugu khatulistiwa aku bertanya,
Mengapa ada yang menyuarakan kami dari pada kita.
Menegaskan batas identitas,
Coba patahkan rantai emas, pengikat mutu manikam nusa.

Di kaki tugu khatulistiwa aku gelisah,
Ketika atap rumah bangsaku goyah.
Sebagian taruna lupa sejarah,
Kita pernah sumpah setumpah darah.

Di kaki tugu khatulistiwa aku resah,
Ketika pagar rumah bangsaku goyah.
Dihantam para pengaku paling beriman.
Lupa kita bersama di kebun dan taman,
Menanam tunas cita keindonesiaan.

Di kaki tugu khatulistiwa aku mengeluh,
Ketika tiang rumahku bangsaku merapuh.
Digoyang sesaudara angkuh,
Tak ingin kebhinekaan utuh.

Di kaki tugu khatulistiwa aku sangsi,
Ketika pondasi rumah bangsaku tergerus erosi.
Terhantam arus pemecah belah,
Hegemoni adi daya terus berulah.

Di kaki tugu khatulistiwa aku masih punya asa,
Kita pernah bersama kibarkan merah putih Dwiwarna.
Satu barisan bersemangat kukuh
Merobek kain biru di puncak gedung musuh.
Dalam dentum meriam kita menjadi tumbal,
Menumbangkan angkuhnya kolonial.

Di kaki tugu khatulistiwa aku tetap mengingat,
Kita bisa tetap bersatu kuat.
Dengan Pancasila adalah simpul pengikat.
Warisan pendiri bangsa,
Digali dan lahir untuk nusantara Indonesia (pw).

Pudji Widodo,

Sidoarjo, 01062021 (78)

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Di Kaki Tugu Khatulistiwa", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/pudji83367/60b6a0b68ede484c170ae043/di-kaki-katulistiwa

Kreator: Pudji Widodo

Kamis, 21 Oktober 2021

Sampah, ketat di regulasi-lemah dieksekusi



Sampah, ketat di regulasi-lemah dieksekusi

Oleh : Pudji Widodo

Pelaksanaan regulasi sampah memang berjalan lambat,
Tak perlu menunggu, tetap ada yang bisa kita perbuat.

Tidak setiap daerah mampu,
Membangun pusat pengolah sampah terpadu.
Tak perlu kita marah dan mengumpat,
Lakukan daur ulang agar sampah membawa manfaat.

Amankan sampah sebelum menjadi masalah,
Amankan sampah sebelum membawa musibah.
Cegah sampah mencemari air, udara dan tanah
Amankan sampah, sebelum tertimbun membukit membawa penyakit.

Ada yang menggantungkan hidup dari sampah,
Bagi pemulung sampah membawa berkah.
Pilah sampah sejak dari dapur rumah.
Sebagian sampah bisa menjadi sarana sedekah.

Seyogyanya bijak kita bersikap terhadap sampah,
Wajiblah berupaya agar aman dari bahaya polutan sampah,
Bila kita merindukan kota kita aman,
Amankan sampah demi lingkungan dan hidup yang lestari serta nyaman.
Kelak kepada generasi berikutnya bumi hijau dan langit biru kita wariskan (pw).

Pudji Widodo,
Sidoarjo, 29092021 (84).



Bagian dari tulisan yang telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ingin Kota Kita Aman, Mulailah dari Mengamankan Sampah", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/pudji83367/6153fce50101900560677442/ingin-kota-kita-aman-mulailah-dari-mengamankan-sampah?page=all#section2

Rabu, 20 Oktober 2021

Perjalanan Ika Medika

Catatan perjalanan Ika Medika
Oleh : Pudji Widodo

Kami datang dari penjuru negeri,
Menempa diri sebelum kami berbakti.
Bermula di orientasi - mengenal "ganjel rel" untuk roti,
Terengah-engah mengayuh sepeda,
Mendaki bukit bergota.
Malam inagurasi menyatukan kami.

Di Kelas B kosong enam awal belajar kami.
Di Gunung Brintik kami lebih mesu diri.
Terkenang lab anatomi dan parasitologi.
Di antara kami wajib remidi.

Kami mengenal pasien rumah sakit Kariadi.
Mendalami derita raga dan jiwa.
Bukan pendekatan individu yang kami atasi.
Di Mlonggo dan Salaman kami mengasah diri.
Kesehatan komunitas adalah orientasi pendidikan kami.

Saatnya pun tiba, 
Kami mengucap sumpah profesi.
Ĺalu menuju seantero nusantara.
Penuhi panggilan Ibu Pertiwi.
Menyejahterakan warga bangsa.
Panji Diponegoro kami junjung tinggi,
Kehormatan almamater kami jaga.
Hingga tutup usia, 
Kami terus berbakti (pw).

Pudji Widodo,
Krian, 18092021.
Untuk Dies Natalis ke 60 FK . Undip
Mengenang sejawat Heru Pras, Jati Lestiyanto, Didi Sugiharto dan Supriyanto yang gugur melawan Covid 19.

Rabu, 13 Oktober 2021

Merti Desa

Merti Desa Sedekah Bumi

Oleh : Pudji Widodo

Iring-iringan warga menyusur jalan dusun. Dalam hening barisan tersusun. 
Bergerak mengular menuju bulak pinggir desa. 
Mereka membawa sajian natura dan olahan aneka rasa.

Di bawah rimbun pepohonan bambu mereka berhenti. 
Cepat rapi warga desa menata diri. Tembang tradisi dinyanyikan tetua desa, bergetar mengalun menembus angkasa.

Lalu bait-bait doa bergema. 
Teriring syukur kepada Hyang Maha Kuasa, 
Atas segala nikmat hasil bumi yang mereka kelola. 
Terungkap permohonan ampunan, 
Karena adanya perilaku semena-mena kepada lingkungan. 
Menyalahi kearifan dan kesepakatan menjaga kelestarian alam.

Merti desa sedekah bumi adalah simbolisasi. 
Tanah jangan hanya dieksploitasi. 
Adanya air terus mengalir, karena sumber terjaga pasti.

Dari alam kembali ke alam. 
Limbah tanaman dan hewan menjadi kompos.
Menggunakan air janganlah boros.
Jaga embung,  bendungan dan lestarikan kawasan resapan. 
Di situ tempat air tersimpan.

Siklus alam dan cuaca yang teratur, membuat bumi terjaga subur. 
Ini memerlukan sikap rukun aksi terukur.
Dari insan berbudi luhur.

Namun derita menimpa lain desa.
Sampah urban mengepung kawasan rural. Fakta ada ketidakadilan diobral.

Kota yang konsumtif, seperti mahluk ganas primitif. 
Urban harus bersih terjaga, namun menimbun polusi di desa dengan penuh tega. 
Warga rural bukan hanya ke ladang dan sawah, juga memulung plastik membuat bank sampah. 
Bila tidak, kambing piaraan bukan  hanya memakan rumput, namun juga kertas dan plastik.

Lalu bagaimana menyadarkan warga kota?
Barangkali kota pun harus melakukan ritual sedekah bumi. (pw).

Pudji Widodo,
Sidoarjo, 19092021 (83)

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Merti Desa Sedekah Bumi", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/pudji83367/61465fc501019027ce083443/mert-desa-sedekah-bumi?source_from=notification_activity