Kamis, 30 Juni 2022

Dari lapangan tembak ke resto hotel

            Ilustrasi dari : akurat.co

Oleh : Pudji Widodo


Membuka kembali ruang hati

Plat terakhir juga jatuh terkena tembakanku. Lima plat seluruhnya dapat aku jatuhkan. Setelah melakukan tindakan keamanan memastikan pistol tak lagi beramunisi, aku bergeser ke tempat istirahat. Total perolehan nilai perkenaan tembakanku cukup memuaskan.

Sudah lama aku menggeluti olah raga menembak. Sesekali aku mengikuti kompetisi yang diselenggarakan institusi TNI-Polri maupun organisasi Perbakin. Sedangkan untuk memelihara kebugaran aku memilih renang dan bersepeda.

Kali ini aku dan Kalvin memilih menghabiskan akhir pekan di lapangan tembak Kodam, sedang Wening menjadi nara sumber seminar pendidikan. Beruntung Kalvin pun berminat sehingga menembak menjadi media mempererat komunikasi bapak dan anak. 

Panggilan telepon dari Rully membuat aku menjauh dari Kalvin yang sibuk mengemasi combat gear bag-nya.
"Kok bunyi dar der dor, Mas lagi di mana sih ?"
"Lapangan tembak, ini sudah selesai latihan."
"Tembaklah aku. Aku tidak akan menghindar lagi,"
"Kan Rully dulu yang menembakku, terus lari kembali ke kelas." Godaku.
Rully tertawa lalu memberitahu bahwa minggu depan dia ada di Surabaya.

Sesuai janji, aku menemui Rully di resto hotel tempat dia menginap. Siang itu aku lebih banyak menjadi pendengar. Ada gelak tawa ketika menyinggung kekonyolan kami dulu.   Namun ada juga genangan air mata ketika dia mengisahkan perilaku suaminya melengkapi apa yang sudah dia ungkapkan via WA.

Menurut Rully, ada nilai yang ingin dia tanamkan kepada kedua anak perempuannya. Tentang kesetiaan kepada suami apapun keadaannya. Itulah nilai ideal yang dia tanamkan, meskipun tentu saja tidak tersampaikan kepada kedua anaknya, bahwa yang dia lakukan hanya lahiriah semata.

Memilih Yunan juga lebih didorong ketaatan kepada orang tua. Rully yang pintar dan mandiri tetap saja tak bisa menghindar dari ide konservatif keluarganya. Baru aku mengerti ketika dalam suratnya dulu Rully menyebut "....menikah. Meski tidak dalam suasana bahagia......"

"Lalu nilai apa yang akan dibaca anak-anakmu tentang kita?" Aku mencoba mengulik.
"Tak mungkin aku sampaikan."
"Maksudmu biarkan itu menjadi rahasia kita?" Aku mencoba memastikan.
Rully mengangguk.
"Aku tak bisa menipu perasaanku. It's the second falling in live with you."

Aku menggenggam tangan Rully, wajah sendunya berubah riang disusul tawa lirih.
"Mas dulu menggandeng tanganku saja tak pernah." Ganti aku yang tertawa. 
"Aku bisa memberimu lebih dari itu Rully" kataku dalam hati. Seberkas hasrat lakiku bangkit.
"Ada CCTV lho." serasa dia mampu membaca hasratku.
"Ada malaikat yang mencatat kehadiran kita." Tukasku. 

Kami tak bisa memanjakan kemauan untuk terus menikmati istirahat siang. Rully ganti yang menggenggam tanganku sebelum kami berpisah. "Terima kasih" bisiknya sambil merapatkan bahunya ke lenganku. Aku membalasnya dengan pelukan ringan di bahunya.

Satu pesan WA Rully kuterima dalam perjalananku kembali ke kantor.
"It's  the second falling in love with you." Rully mengulang apa yang telah dia sampaikan dengan emoji wajah menangis.
"Kali ini tak perlu malu dengan berlari mendahului masuk kelas."
Dia membalas dengan rangkaian tawa emotikon.
"Senang bisa membuatmu riang kembali?" Aku membalas.
"Hanya itukah Mas?"
"Sudut ruang hati yang pintunya yang selama ini terkunci telah kubuka kembali." Aku menegaskan.

******************************************

Klinik Bakti Sentosa

Sore ini aku mengantar Wening menjalani pemeriksaan papsmear rutin. Wening rutin melakukan skrining kanker leher rahim. Tahun lalu hasilnya dalam batas normal. Semoga kali ini juga demikian. Riwayat keluarga yang membuat Wening melakukan upaya preventif termasuk melakukan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV).

Tiga dari enam bersaudara perempuan Wening semuanya punya pengalaman operasi tumor. Dua orang menjalani histerektomi dan seorang adiknya sedang menjalani kemoterapi karena kanker payudara. Kecuali adik bungsu Wening yang baru saja menjalani operasi batu empedu.

Wening selalu memeriksakan papsmear di klinik Bakti Sentosa. Semula klinik ini dikelola salah satu dokter senior dan guru besar patologi anatomi senior di Surabaya dan kini diteruskan oleh anaknya. Menurutku biaya periksa laboratorium PA termasuk ringan karena ada semangat karitas dari keluarga dokter tersebut.

Di ruang tunggu klinik tersedia brosur manfaat berbagai tanaman anti kanker. Almarhum guru besar patologi anatomi tersebut memang pemerhati obat tradisional dan fitofarmaka. RSUD dr. Soetomo juga membuka poliklinik layanan tradisional sebagai bentuk pelayanan komplementer yang diamanatkan dalam UU Kesehatan.

Dari klinik Bakti Sentosa kami singgah di Restoran Thailand di jalan Embong Kenongo. Nikmatnya hidangan pembuka Sweet Cassava dan menu utama sup ikan serta tomyam yang mendorong kami datang ke resto ini. 

Wening yang lapar lahap menyapu menu pesanan. Aku memperhatikan istriku yang sedang menyesap kuah tomyam. Sebersit rasa bersalah menusuk relung hati. 

Sadar menjadi pusat perhatian, Wening meletakkan sendok supnya.
"Kenapa sayang ?"
"Kita belum pesan makanan buat Kalvin." Aku mencoba mengalihkan rasa bersalahku.
"Nasi goreng seafood saja," 
"Tidak ada yang tergolong aprodisiak untuk kita." 
"Nggak masalah, nanti ya." Wening mengerdipkan kelopak mata kirinya.

Di rumah Kalvin riang menerima kemasan nasi goreng. Aku telah berpesan kepada Kalvin untuk tidak makan malam dulu. Sementara Kalvin menikmati nasi goreng, aku langsung menyiapkan bahan paparan untuk besok pagi. 

Aku menyempatkan ke kamar Kalvin setelah slide power point-ku selesai. Kalvin masih mengerjakan proyek kelasnya.
"Tidur dulu Pi, biar aku jaga tandon air." Kalvin menunjukkan partisipasinya dalam urusan domestik.

Wening menaruh gawainya, ketika aku membuka pintu kamar dan menguncinya. Alunan saksofon Kenny G bagi Wening kali ini menjadi pilihan untuk pengantar tidur. Satu isyarat yang harus ditanggapi. Setidaknya mengurangi rasa bersalahku yang telah melakukan emotional cheating dengan Rully.

Begitu aku berbaring dia langsung meletakkan betis kanannya di atas tungkaiku. Aku meraih Wening ke dalam pelukanku sebagai respon terhadap stimulus betis kanannya. Malam itu kami bercinta dan ketika selesai Wening berbisik "Terima kasih Pi." sambil memelukku.

Dalam temaram kamar aku telah memberikan totalitas diri yang membawa Wening ke puncak kepuasan. Lebih tepat disebut totalitas fisik, karena sebenarnya yang terjadi adalah aku membayangkan melakukannya untuk Rully. "Ah Wening, maafkanlah aku." Keluhku dalam batin (pw)


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 10062022.(114)
Sumber foto : klik akurat.co, 31/1/2021

Kisah sebelumnya : Kita yang mana Mas.
Telah diunggah di eskaber.com, 26/6/2022.
Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar