Pelan tapi pasti Rully merasuk dalam hidup keseharianku. Komunikasi antara kami terjalin hampir setiap hari, ada saja topik yang kami perbincangkan.
"Mas aku lagi di gazebo dekat musala kantor, sejuk."
"Andai bisa berdua,"
"Maunya sih."
"Aku kirim lagunya Ermy Kulit ya."
"Enak tuh untuk teman makan siang."
"Andai bisa makan siang berdua." Kali ini ganti Rully yang berandai-andai.
Workshop yang diikuti Rully di Solo menimbulkan ide untuk kami bertemu. Menyitir ucapan mantan wapres Adam Malik : "Di republik ini semua bisa diatur?" Aku tidak memastikan janji untuk Rully, tetapi langkah pasti yang bisa kulakukan adalah menjadwalkan kegiatan operasional di kota itu.
"Usahakan ya Mas." Rully mengirim pesan disertai emoji hati. Ada hal yang tak bisa terpenuhi hanya dengan kata-kata dalam sebaris pesan. Aku menangkap sinyal itu, rasanya interpretasiku benar. Meskipun dia pernah menyampaikan "Aku aku tak bisa menuntut lebih, memilikimu meski tak bisa menyentuhmu."
Wening tak pernah menelisik kemana kantorku memberi tugas. Itulah sebabnya dia menanggapi biasa saja ketika aku sampaikan akan ada kegiatan kantor di Solo, termasuk mengapa waktunya harus akhir pekan. Justru perlu upaya untuk meminta pengertian Kalvin minggu ini aku tak bisa menemaninya di lapangan tembak.
Ketekunan Kalvin berbuah manis. Dia masuk talent scouting program pengurus cabang Perbakin dari hasil kompetisi untuk pemula yang dia ikuti di berbagai kota. Aku terus mendorongnya supaya suatu saat bisa imenembus PraPON.
Beberapa kali bersama-sama rekan klub menembak, anak tunggalku itu pergi ke luar kota di mana kompetisi diselenggarakan tanpa kusertai. Namun aku berjanji untuk menemaninya saat seleksi di lapangan tembak Kodam minggu berikutnya.
Semua urusan di Solo bisa cepat kuselesaikan. Selanjutnya aku menjemput Rully dari tempat workshop. Rully sudah siap menunggu di depan lobi hotel. Sengaja aku tidak keluar dari mobil saat dia memasukkan koper ke ruang bagasi dan dia segera masuk ke dalam mobil tanpa aku membuka kaca.
Lalu secepatnya kami keluar dari area penjemputan tamu hotel. Sepanjang hidupku aku tak pernah melakukan seperti ini. Ada rasa tak nyaman ketika sempat muncul di benakku bahwa Rully mempunyai suami dan keluarga seperti aku juga.
"Kita kemana?" Rully bertanya.
"Cari tempat sembunyi"
"Aku seperti diculik."
"Terbalik, kau yang telah mencuri."
Kami tertawa bersama.
Kuraih tangannya, kugenggam sejenak.
"Bawalah aku pergi." pintanya.
Laju lalu lintas yang melambat membuat aku jadi merapat pada truk di depan mobilku. Bak belakang truk itu bergambar perempuan seksi dengan tulisan "ku tunggu jandamu." Tanpa diberi aba-aba, kami tertawa bersama melihat graviti itu.
Tulisan di bak belakang truk membuatku sempat berpikir, apa yang akan kulakukan bila Rully menjadi janda. Mungkinkah aku minta ijin kepada Wening untuk melakukan poligami. Lalu kira-kira apa sikap Wening?
Aku bisa memastikan resistensi dari Wening adalah apa kekurangannya, sehingga aku perlu menikah lagi dengan wanita lain. Sepanjang kami hidup bersama, aku tak mempunyai alasan serta masalah krusial yang membuat kami ingin berpisah atau menduakan hati.
Di mata keluarga besar masing-masing, kami adalah pasangan tanpa cacat, sukses finansial, karir dan menjaga keutuhan rumah tangga. Namun hari ini semua itu runtuh, meskipun mereka belum tahu. Entah sampai kapan kami bisa menutupi kebohongan ini.
Hanya sejenak, lalu semua yang berkelindan di kepalaku itu aku tepis ketika Rully minta pendapatku.
"Mas kalau kita nambah semalam di sini bagaimana?"
"Bagaimana dengan anak-anak ?," Sergahku.
"Kapan lagi aku punya waktu untuk diriku sendiri?" Rully menjelaskan alasannya.
Siapa yang terperangkap dan siapa yang menjebak. Yang pasti sejak dari Surabaya pun aku sudah merancang alternatif waktu menambah sehari. Itu pula yang aku sampaikan waktu pamit kepada Kalvin dan pesan untuk hari minggu berlatih tanpa kutemani. Meskipun demikian aku tak mau mengiyakan usulan Rully.
Sampai di hotel di pinggir kota Solo, tak banyak kata terucap antara kami. Tuntunan naluri membangkitkan fungsi fisiologis raga yang lama tertunda. Seperti tekanan magma yang membongkar puncak gunung, gelora gairah mendapatkan penyalurannya.
Tak ada yang terlewatkan, aku menyusuri seluruh tubuh Rully. Dalam kepasrahan Rully memanduku menuju penuntasan hasrat. Bertemu di pusat keintiman, hujaman stimulus ritmis membuat kami sementara melupakan semua beban.
Rully memelukku erat sebelum kami meninggalkan kamar hotel.
"Lain hari kita bisa bertemu lagi. Tapi hari ini kita masih mempunyai tanggungjawab di rumah." Bisikku meyakinkan Rully . Benar, setelah itu kami melanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.
********************************************
Kembali ke tengah keluarga, aku berusaha membuat situasi kehidupan keluarga yang normal. Figur sebagai suami dan ayah yang baik tak boleh tergoyahkan. Sebuah kompensasi dari sebongkah rasa bersalah. Tentu tidak seberat Rully yang harus menjadi ibu dan kepala keluarga.
Hingga suatu hari.
"Ada yang nggak beres di mammae kananku pi."
Wening menyampaikan itu setelah mandi pagi.
"Nyeri?"
Wening membenarkan pertanyaanku. Aku letakkan sisir dan memeriksa apa yang Wening keluhkan. Aku putuskan nanti sore membawa Wening ke dokter bedah onkologi.
Aku tak mau berspekulasi tentang kesehatan Wening. Riwayat sakit dalam keluarganya membuatku khawatir. Kecepatan dan ketepatan diagnosis mempercepat keputusan tindakan dan ini berharga bagi kualitas hidup pasien. Kewajibanku memberi dukungan yang terbaik untuk Wening.
Bergandengtangan aku dan Wening memasuki ruang praktek dokter. Ada kehangatan, ada harapan dalam perbincangan dengan dokter.. Sebuah interaksi yang manusiawi antara dokter pasien sore itu . Ini mengikis bayangan society 5.0, ketika kecerdasan artifisial, internet dan robotika diramal menggusur peran dokter.
Benjolan di payudara kanan Wening telah diangkat lalu dibawa ke laborat patologi anatomi . Menunggu dan berharap, bersyukur hasilnya tak seburuk kekhawatiran kami. Kami lega, dokter menyampaikan hanya fibroademoma mammae, termasuk tumor jinak (pw).
Bersambung
Pudji Widodo,
Sidoarjo, 25072022 (119).
Sumber ilustrasi : CNN Indonesia,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar