(Ilustrasi warung sate asli madura, sumber : klik restaurantguru.com)
Oleh : Pudji Widodo
Sesuai kesepakatan dalam forum arisan kaum bapak, Cak RT melalui grup WA kembali mengulangi informasi bahwa hari minggu akan ada kerja bakti. Beberapa warga yang telah senior usianya memanggil Ketua RT yang masih muda, yang meskipun bersuku Batak dengan sebutan Cak RT.
Mat Sokeh bukan tidak loyal kepada keputusan bersama warga dan Cak RT, namun ada hal yang menurutnya lebih urgen sehingga dia memberanikan diri minta ijin ke Cak RT bahwa dia tidak bisa ikut kerja bakti. Beruntung Cak RT bijak memberi keleluasaan kepadanya untuk kali ini tidak hadir kerja bakti.
Mat Sokeh bukan tergolong SSTI, suami-suami takut istri, tapi pendapat dan permintaan istrinya benar- benar masuk akal untuk dituruti. Pagi itu dia pergi ke rumah Hanafi, saudaranya yang punya usaha percetakan dan sablon. Dia minta tolong untuk dibuatkan spanduk identitas warung satenya.
Perkembangan kekinian menyebabkan spanduk yang selama ini terpasang di warung satenya harus diganti. Semalam istrinya yang membuka persoalan. Isterinya pun meneruskan informasi dari Riduan anak sulung mereka.
"Kita bisa terancam kehilangan pelanggan." Keluh isterinya.
"Wah kamu ini gampang percaya medsos dan hape."
"Anakmu yang bilang gubernur sampai ikut sibuk memeriksa dan ada ustad usul agar polisi memproses pelakunya."
"Itu kan soal rendang, lha kita kan jualan sate."
"Itulah gunanya Riduan sekolah, jadi lebih pintar dari kita. Katanya, jangan cuma melihat ancaman, tapi juga peluang."
Mat Sokeh tak mau memperpanjang debat. Dia tak mau tidur di luar kamar gara-gara beda pendapat. Mat Sokeh berjanji kepada istrinya besok pagi berangkat ke rumah Hanafi, sambil mulai mengangkat daster isterinya.
Besok paginya Hanafi tanggap terhadap persoalan yang dikemukakan Mat Sokeh. Tak perlu menunggu pegawainya datang, dia langsung menghidupkan komputer. Digarapnya sendiri order dari kawannya, tanda solidaritas antar teman bergelar MA, Madura Asli.
Beberapa konsep ditawarkan Hanafi kepada Mat Sokeh. Ada kesamaan dari beberapa gambar rencana, yaitu selalu tercantum tulisan dan foto isterinya "Buk Yuleka." Buk adalah lafal Madura untuk pengucapan "Bu" dalam bahasa Jawa. Nama isteri Mat Sokeh telah digunakan sebagai brand sejak pertama kali warung dibuka.
Mat Sokeh telah memilih satu dari beberapa konsep spanduk yang dirancang Hanafi. Sungguh beruntung dia punya teman bersama dulu di pondok pesantren di Bangkalan. Bedanya Hanafi melanjutkan kuliah diploma teknologi informasi, sedang dia langsung kawin dengan Yuleka dan buka warung sate.
************************************
Dengan penuh percaya diri Mat Sokeh menuju Balai RT. Beruntung kerja bakti masih berlangsung ketika dia sampai di lingkungan rumah tinggalnya. Bermodal tas plastik berisi pisang goreng, ote-ote dan cakwe dia yakin ketidakhadiran dirinya dalam kerja bakti dimaklumi warga RT lainnya.
"Bagaimana Bang ?" Selidik Cak RT sambil mengambil sepotong cakwe.
"Alhamdulillah, sudah beres Cak RT. Memang spanduk sudah buram, sudah waktunya ganti. Gsmbar Yuleka juga sudah nggak jelas lagi." Jawab Mat Sokeh tanpa menyinggung persoalan sebenarnya.
"Dari mana Cak?" Ganti Samsuri tetangganya yang bertanya ketika Mat Sokeh menawarkan diri menggantikan menggendong mesin pemotong rumput.
"Tadi sebentar ke percetakan." Lalu mereka berdua bertukar peran memotong rumput.
Jam sepuluh kerja bakti pun bubar. Mat Sokeh bergegas pulang. Di dapur Yuleka sedang meracik bumbu gulai.
"Lepas zuhur nanti Hanafi akan mengantar spanduk pesanan kita." Mat Sokeh mendahului menceritakan hasil kerjanya sebelum ditanya istrinya.
"Semoga yang kita khawatirkan tidak terjadi." Tukas Yuleka sambil memblender cabai untuk sambal.
Sesuai janjinya Hanafi datang mengantar spanduk baru pesanan Mat Sokeh. Buk Yuleka tersenyum puas ketika gulungan spanduk dibuka dia bisa melihat gambar dan narasi sudah sesuai keinginannya. Dia lalu minta suaminya mendahului berangkat ke lokasi warungnya untuk melepas spanduk lama dan menggantinya dengan spanduk baru.
Bergegas Mat Sokeh melaksanakan "arahan" isterinya. Setelah spanduk terpasang, Mat Sokeh mendokumentasikan hasil kerjanya dan mengirim foto via WA ke isterinya. Tidak lama kemudian foto warung dengan spanduk baru sudah terunggah di grup WA Dasa Wisma, kader posyandu dan PKK RT.
Seperti juga isterinya, Mat Sokeh pun mengunggah foto tersebut ke grup WA kaum bapak di RT.
"Mantap Bang, asli," komentar Cak RT. Berikut rangkaian komentar anggota grup lainnya :
"Keren, penjualnya asli, daging satenya pun asli."
"Semoga berkah Cak."
"Tidak ada alasan untuk ragu, dijamin halal.”
Ya, pada spanduk baru tertulis jelas : "Warung sate Buk Yuleka, Madura Asli.” Bukan hanya itu, sesuai pesanan, Hanafi pun mencantumkan : “Ayam dan Kambing Asli." Semua itu dilakukan agar pelanggan tidak terpengaruh riuhnya perbincangan tentang rendang di restoran “babiambo.” (pw).
Pudji Widodo,
Sidoarjo, 15062022.(116)
Sumber : klik CNN Indonesia, 10/6/2022
Cerita fiksi ini telah ditayangkan di : klik eskaber.com, 16/06/2022.
Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar