Sabtu, 29 Agustus 2020

Bertahan di batas penat

BERTAHAN DI BATAS PENAT

oleh : pudji widodo


Sejenak rehatkan lelahmu,

Baringkan raga letakkan penat. 

Kau tengok jejak kaki, 

Jalan panjang telah kau tempuh, 

Tapak jejak prestasi dan gagal, 

Kemenangan maupun kekalahan, 

Manis pahit kenangan silih berganti. 

Semua terlewati karena kasih Tuhan.


Hasratmu melangkah kembali,

Nyeri mendera kau coba lawan,

Perjalanan masih panjang,

Harapan dan doa kau lantunkan,

Bersyukur Tuhan memberi kekuatan.


Yakin Tuhan tuntun langkahmu

Tak pernah kau takut,

Di riuh hari atau pekatnya malam,               

Di gelombang samudera pelayaran.

Di belantara kefanaan,

Atau di jalan pembebasan abadi,

Hanya kepadaNya kau bergantung,

Sang Pemilik Kehidupan.


Bendungan Hilir, 260119

Untuk Kowal Inge.

(Telah diunggah di akun : www.kompasiana.com/pudji83367, 26/1/2019).


(Kowal, sumber foto : tni.mil.id)


Doa Empat Prajurit

DOA EMPAT PRAJURIT

Oleh : pudji widodo


Empat orang diam membeku dalam perlindungan gelap dini hari. Ibaratnya, jangankan sendawa,  hembusan napas pun bila perlu  disembunyikan. Dari teropong penglihatan malam mereka mengamati situasi fasilitas komunikasi dan radar musuh. Dalam senyap mereka menunggu isyarat bergerak dari komandan timnya. Apa yang terjadi berikutnya sudah jelas membunuh atau terbunuh. Realita yang sudah mereka sadari sejak brifing di ruang operasi, menjelang infiltrasi bawah air dari kapal selam  yang dipilih menjadi  media menyusup ke pantai lawan.

(US Navy SEAL Team, sumber foto :
www.wearethemighty.com, 12/6/2020)

Detik waktu terasa lambat berlalu, memberi kesempatan mereka untuk kontemplasi, meskipun di ruang terpedo kapal selam mereka telah bersama-sama berdoa menurut agama masing-masing. Selesai berdoa, mereka masih menyempatkan memastikan di lengan masing-masing telah melekat lencana bendera negara. 

Bertahun-tahun mereka telah bersama, di basis maupun di berbagai penugasan, namun apakah mereka masih bisa bersama lagi atau justru misi ini membawa mereka ke jalan kematian. Sebuah cara untuk mati yang telah mereka sadari. Kesamaan mereka adalah mati dengan bertanda lencana bendera pusaka negara di lengan, sedang perbedaan mereka adalah pada ritual doa kematian yang dilantunkan karena agama mereka berbeda. Kata amin mengakhiri doa bersama mereka, sebuah kata yang bermakna masing-masing mengamini semua doa yang mereka panjatkan. Kesadaran akan kematian justru menyatukan mereka.

Paradoks dengan pemahaman dan kesatuhatian para prajurit siluman itu,  para elit negeri sibuk memanfaatkan situasi perang, mengangkat narasi pembangkit benci sebagai tangga menuju kekuasaan. 
Di tengah masa transisi menuju pemilu, sang penguasa petahana sibuk membangun spirit perlunya bersatu melawan musuh negara, sementara oposisi mengecam penguasa, negara susah karena penguasa yang menjerumuskan ke jurang peperangan.

Petahana dan opisisi nyaring menawarkan pilihan, yang formal menawarkan program dalam debat nasional. Sementara kelompok buzer menebar kabar tentang lawan politik abal-abal. Prajurit di garis depan tak habis mengerti, saat mereka bertempur di palagan penuh mesiu terbakar, di garis belakang konon ada yang menyerukan perang badar. Prajurit tak peduli, toh mereka tak punya hak pilih. 


Meski hati miris,   negeri berpotensi runtuh, dari luar diserang musuh, namun di dalam ribut tak menyadari potensi disintegrasi. Terhadap musuh prajurit tak takut meski bila maut menjemput. Mereka lebih khawatir dan gamang, kala sesama anak bangsa yang berseberangan pilihan politik nyinyir dengan garang. Mereka seakan lupa pengobanan pendahulu, tak ingat riwayat negeri mula bersatu. 

Di belakang prajurit pengintai debur ombak menderu kencang. Menyamarkan serbuan senyap, alam mendukung sukses mereka, para prajurit perenang tempur menembus gelombang. Di balik lindung tinjau, mereka mencoba tenang, lupakan sengketa anak bangsa dalam mendukung calon pemimpin yang terobsesi menjadi pemenang. 
Di medan tugas, prajurit menaruh asa, persaingan politik dilaksanakan dalam koridor etika. Siapapun pemenangnya, dialah yang kelak menjadi panglima, dan prajurit sudah bersumpah setia.

Tak lama,  ingatan tentang situasi garis bekakang terhenti. Kulminasi titik tunggu tercapai,  dua orang operator musuh membuka pintu bergerak ke arah para prajurit pengintai mengendap, mungkin giliran dua orang musuh itu melakukan patroli keliling instalasi. Orang-orang ini berprinsip sama dengan para pengintainya, membunuh atau dibunuh, bahkan semalam mungkin diantara dua orang itu telah sembahyang dan beragama sama dengan salah satu pengintainya.

Di antara pengintai paham tugasnya, peluru dari senapan berperedam telah dilesatkannya, kedua operator musuh tumbang mati dalam senyap. Empat prajurit sabotir bergerak maju ke sasaran sesuai rencana. Sebuah rencana  yang mungkin akan membawa mereka kepada kematian lalu menuju keabadian. Sesuai takdir Allah menurut prajurit pertama dan kedua meski berbeda mazhab, kembali kepada Tuhan Trinitas yang Esa menurut prajurit ketiga dan kehendak Ida Sang Hyang Widi Wasa menurut prajurit keempat.

Dharma prajurit yang berujung kematian telah mereka sadari. Mungkin sebentar lagi ganti mereka menyusul kedua musuh yang telah mereka binasakan.  Mereka telah berdoa bersama, meski berbeda, tanpa saling mengkafirkan.

Ini kisah di negeri  Nusaloka, bagaimana kisah di negeri anda?


Bendungan Hilir, 08032019.
(Teriring hormat kepada tiga prajurit Satgas Gakkum TNI yang gugur di Nduga Papua 7 Maret 2019).

Cerpen ini telah diunggah di www.kompasiana/pudji83367, 8/3/2019.

Kamis, 27 Agustus 2020

Tentang doamu Ibu

TENTANG DOAMU IBU

Oleh : pudji widodo


Di gelap malam, memeluk senapan.
Mata terpicing, badan berselimut dingin perkubuan.
Akankah kutemui matahari pagi kembali?
Ibu kumohon doamu.

Di gelap anjungan, diayun ombak dan tinggi diguncang gelombang.
Saat langit hitam kehilangan bintang,
Kapal serasa tak berarti di luas lautan.
Ibu kumohon doamu.

Diantara perintah, teriak dan tubuh lusuh, Pantang kalah, hati gemuruh.
Kerut wajah gundah, nyalang pandang tawanan.
Di batas tipis kasih, pasrah dan dendam perlawanan.                           
Mengantar amunisi meminta korban.
Ibu  kumohon doamu,
Aku hanya melaksanakan kewajiban.

Namun bila ku tak kembali,
Tanpa saksi dan seremoni,
Hilang jiwa dan jasad tanpa warta,
Ibu Kumohon doamu.                           
Semua demi Dwi Warna Sang Saka kita.


Bendungan Hilir, 04032019.

(dengan hormat untuk yang dalam peristirahatan terakhir di TMP Seroja Dili, dan MIA 14 Desember 2016).
Telah dimuat di akun : www.kompasiana.com/pudji83367, 6/3/2019.

(Kopka POM Joao Lopez, anggota Satgas Pelayanan Kesehatan Timor Leste 2016 mengunjungi TMP Seroja Dili)




Rabu, 26 Agustus 2020

Hymne Larut Malam

HYMNE LARUT MALAM

oleh : pudji widodo

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami,
Mengalun menutup pergantian hari,
Setelah rangkaian santiaji,
Menempa jiwa yang sudah bukan milik sendiri,
Seperti Patimura, Ngurah Rai dan Walter Robert Mongisidi,
Menukar jiwanya demi kemerdekaan negeri.

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami,
Mengantar kami ke hari baru.
Setelah mencium merah putih Sang Saka.
Melepas baju loreng kami yang telah lusuh,
Karena lumpur, darah, keringat dan air mata bersatu,
Yang bagi kami wangi bak melati.
Mengingatkan palagan medan bakti,
Yang mungkin kelak menelan kami lenyap,
Atau kembali terbujur kaku dijemput maut,
Dalam merah putih- peti mati kami terbalut.

Bagimu Negeri Jiwa Raga kami,
Tidak berakhir malam itu.
Dia mengalun sepanjang hayat kami,
Saat di gunung rimba, di tengah samudera dan angkasa raya,
Kami tiga matra pengawal kedaulatan negeri.

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami,
Mengalun lirih saat kami melipat baju loreng lusuh kami,
Lalu menyiapkan pengganti yang kami kenakan esok hari,
syal leher merah,
Semerah darah yang menyembur dari luka raga dan baju loreng yang terkoyak,
Menetes membasahi bumi pertiwi,
Yang kami jaga sampai mati.

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami,
Membahana di jiwa saat fajar merekah,
Semburat merah di balik bukit Tidar,
Mengantar kami mengucap Satya Dharma Wira,
Sumpah menggetarkan raga, terbungkus baju loreng sakral.
Yang sepanjang hayat kami kenakan,
Karena hanya itu yang kami punya,
Baju loreng penanda harga diri,
Yang bukan karena dekorasi semu lencana,
Tetapi berhias kebanggaan dan kehormatan sejati,
Mempertahankan nusantara,
Biarpun gugur hancur - ajal menimpa.

(Ditulis untuk mengenang larut malam menjelang prasetya perwira, menghormati para prajurit TNI yang telah gugur dan hilang dalam tugas, khususnya Serda Handoko Yonif 755/Yaled yang gugur di Mbua - Nduga Papua 031218 ).

pudji widodo

Sidoarjo, 14122018

Telah diunggah di akun : www.kompasiana.com/pudji83367.


(Penutupan Pendidikan Perwira Prajurit Karier TA 2015, sumber foto : m.tribunnews.com 7 April 2015)

Satya Dharma Wira


SATYA DHARMA WIRA

Oleh : pudji widodo

Menyusuri jalan pulang, 
Jelang hari berganti malam.
Kubawa seberkas bayang-bayang,
Tentang karya gemilang maupun kelam.

Menyusuri jalan pulang, 
Lewati tegaknya jajaran lampu jalan. 
Yang berbisik lirih dalam remang,     
 "Ikhlas kibarkan kewajiban".

Menyusuri jakan pulang, 
Kala senja mulai merona. 
Kupastikan meski hanya bayang-bayang, Tersirat pesan hanya berganti palagan juang, bukan darma satya.

Biarlah hari terus berganti, 
Biarkan terang berganti petang.
Apakah esok sore senja tetap datang. Entahlah karena bakti tak kenal senja. 
Dan telah kupilih, sepenuh jiwa menjaga dwiwarna, pusaka Nusantara. 
Tak ada darma yang mendua.


(Ilustrasi pahlawan Robert Wolter Mongisidi, sumber foto : https://www.suratkabar.id/wp-content/uploads/2017/08/000-rwm.jpg)

Krian-Sidoarjo 211019.

pudji widodo

(pudji06alri.blogspot.com, pudjialfalima.blogspot.com, www.kompasiana/pudji83367)


SERUAN BAGI TARUNA

(Ilustrasi tanda kehormatan, foto : dokumen pribadi)

Seruan Bagi Taruna

Oleh : pudji widodo

Menatap larik lencana,
terbayang barisan nisan,
terkenang rintih pengorbanan.
Menatap larik lencana,
terkenang darah tertumpah.
terngiang jiwa bersumpah.
Rebut tanah pusaka,
rela nyawa tertukar merdeka,
untuk negeri yang bhineka.

Menatap larik lencana,
bukan warna penghias busana,
tanda bangga sementara.
Di sana tertata kumpulan derita.
Juga pengingat jangan berhenti,
teruslah berbakti,
bagi Ibu Pertiwi.

Setialah menjaga,
satu negeri yang bhineka.
Meski gugur hancur.
kini atau nanti esok hari.
Jangan waktu berlalu,
Pilih darma satria- jangan jadi benalu
Buat hidup bermakna,
Sebelum larik lencana - terkubur barisan nisan.


Selamat menyambut Hari Sumpah Pemuda 2018


Sidoarjo, Minggu 281018.
(dapat dibaca di www.kompasiana.com/pudji83367, 28/10/2018).

Bawalah aku pergi

Ilustrasi : iStockphoto/Motortion via CNN Indonesia , 24/5/2022. Bawalah aku pergi Pelan tapi pasti Rully merasu...