Senin, 25 Juli 2022

Bawalah aku pergi

Ilustrasi : iStockphoto/Motortion via CNN Indonesia, 24/5/2022.


Bawalah aku pergi

Pelan tapi pasti Rully merasuk dalam hidup keseharianku. Komunikasi antara kami terjalin hampir setiap hari, ada saja topik yang kami perbincangkan.
"Mas aku lagi di gazebo dekat musala kantor, sejuk."
"Andai bisa berdua,"
"Maunya sih."
"Aku kirim lagunya Ermy Kulit ya."
"Enak tuh untuk teman makan siang."
"Andai bisa makan siang berdua." Kali ini ganti Rully yang berandai-andai.

Workshop yang diikuti Rully di Solo menimbulkan ide untuk kami bertemu. Menyitir ucapan mantan wapres Adam Malik : "Di republik ini semua bisa diatur?" Aku tidak memastikan janji untuk Rully, tetapi langkah pasti yang bisa kulakukan adalah menjadwalkan kegiatan operasional di kota itu.

"Usahakan ya Mas." Rully mengirim pesan disertai emoji hati. Ada hal yang tak bisa terpenuhi hanya dengan kata-kata dalam sebaris pesan. Aku menangkap sinyal itu, rasanya interpretasiku benar. Meskipun dia pernah menyampaikan "Aku aku tak bisa menuntut lebih, memilikimu meski tak bisa menyentuhmu."

Wening tak pernah menelisik kemana kantorku memberi tugas. Itulah sebabnya dia menanggapi biasa saja ketika aku sampaikan akan ada kegiatan kantor di Solo, termasuk mengapa waktunya harus akhir pekan. Justru perlu upaya untuk meminta pengertian Kalvin minggu ini aku tak bisa menemaninya di lapangan tembak.

Ketekunan Kalvin berbuah manis. Dia masuk talent scouting program pengurus cabang Perbakin dari hasil kompetisi untuk pemula yang dia ikuti di berbagai kota. Aku terus mendorongnya supaya suatu saat bisa imenembus PraPON. 

Beberapa kali bersama-sama  rekan klub menembak, anak tunggalku itu pergi ke luar kota di mana kompetisi diselenggarakan tanpa kusertai. Namun aku berjanji untuk menemaninya saat seleksi di lapangan tembak Kodam minggu berikutnya.

Semua urusan di Solo bisa cepat kuselesaikan. Selanjutnya aku menjemput Rully dari tempat workshop. Rully sudah siap menunggu di depan lobi hotel. Sengaja aku tidak keluar dari mobil saat dia memasukkan koper ke ruang bagasi dan dia segera masuk ke dalam mobil tanpa aku membuka kaca. 

Lalu secepatnya kami keluar dari area penjemputan tamu hotel. Sepanjang hidupku aku tak pernah melakukan seperti ini. Ada rasa tak nyaman ketika sempat muncul di benakku bahwa Rully mempunyai suami dan keluarga seperti aku juga.

"Kita kemana?" Rully bertanya.
"Cari tempat sembunyi"
"Aku seperti diculik."
"Terbalik, kau yang telah mencuri."
Kami tertawa bersama.
Kuraih tangannya, kugenggam sejenak. 
"Bawalah aku pergi." pintanya. 

Laju lalu lintas yang melambat membuat aku jadi merapat pada truk di depan mobilku. Bak belakang truk itu bergambar perempuan seksi dengan tulisan "ku tunggu jandamu." Tanpa diberi aba-aba, kami tertawa bersama melihat graviti itu.

Tulisan di bak belakang truk  membuatku sempat berpikir, apa yang akan kulakukan bila Rully menjadi janda. Mungkinkah aku minta ijin kepada Wening untuk melakukan poligami. Lalu kira-kira apa sikap Wening? 

Aku bisa memastikan resistensi dari Wening adalah apa kekurangannya, sehingga aku perlu menikah lagi dengan wanita lain. Sepanjang kami hidup bersama, aku tak mempunyai alasan serta masalah krusial yang membuat kami ingin berpisah atau menduakan hati.

Di mata keluarga besar masing-masing, kami adalah pasangan tanpa cacat, sukses finansial, karir dan menjaga keutuhan rumah tangga. Namun hari ini semua itu runtuh, meskipun mereka belum tahu. Entah sampai kapan kami bisa menutupi kebohongan ini.

Hanya sejenak, lalu semua yang berkelindan di kepalaku itu aku tepis ketika Rully minta pendapatku.
"Mas kalau kita nambah semalam di sini bagaimana?"
"Bagaimana dengan anak-anak ?," Sergahku.
"Kapan lagi aku punya waktu untuk diriku sendiri?" Rully menjelaskan alasannya.

Siapa yang terperangkap dan siapa yang menjebak.  Yang pasti sejak dari Surabaya pun aku sudah merancang alternatif waktu menambah sehari. Itu pula yang aku sampaikan waktu pamit kepada Kalvin dan pesan untuk hari minggu berlatih tanpa kutemani. Meskipun demikian aku tak mau mengiyakan usulan Rully. 

Sampai di hotel di pinggir kota Solo, tak banyak kata terucap antara kami. Tuntunan naluri membangkitkan fungsi fisiologis raga yang lama tertunda. Seperti tekanan magma yang membongkar puncak gunung, gelora gairah mendapatkan penyalurannya. 

Tak ada yang terlewatkan, aku menyusuri seluruh tubuh Rully. Dalam kepasrahan Rully memanduku menuju  penuntasan hasrat. Bertemu di pusat keintiman, hujaman stimulus ritmis membuat kami sementara melupakan semua beban.

Rully memelukku erat sebelum kami meninggalkan kamar hotel.
"Lain hari kita bisa bertemu lagi. Tapi hari ini kita masih mempunyai tanggungjawab di rumah." Bisikku meyakinkan Rully . Benar, setelah itu kami melanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

********************************************

Kembali ke tengah keluarga, aku berusaha membuat situasi kehidupan keluarga yang normal. Figur sebagai suami dan ayah yang baik tak boleh tergoyahkan. Sebuah kompensasi dari sebongkah rasa bersalah. Tentu tidak seberat Rully yang harus menjadi ibu dan kepala keluarga.

Hingga suatu hari. 
"Ada yang nggak beres di mammae kananku pi."
Wening menyampaikan itu setelah mandi pagi.
"Nyeri?" 
Wening membenarkan pertanyaanku. Aku letakkan sisir dan memeriksa apa yang Wening keluhkan. Aku putuskan nanti sore membawa Wening ke dokter bedah onkologi.

Aku tak mau berspekulasi tentang kesehatan Wening. Riwayat sakit dalam keluarganya membuatku khawatir. Kecepatan dan ketepatan diagnosis mempercepat keputusan tindakan dan ini berharga bagi kualitas hidup pasien. Kewajibanku memberi dukungan yang terbaik untuk Wening. 

Bergandengtangan aku dan Wening memasuki ruang praktek dokter. Ada kehangatan, ada harapan dalam perbincangan dengan dokter.. Sebuah interaksi yang manusiawi antara dokter pasien sore itu . Ini mengikis bayangan society 5.0, ketika kecerdasan artifisial, internet dan robotika diramal menggusur peran dokter.

Benjolan di payudara kanan Wening telah diangkat lalu dibawa ke laborat patologi anatomi . Menunggu dan berharap, bersyukur hasilnya tak seburuk kekhawatiran kami. Kami lega, dokter menyampaikan hanya fibroademoma mammae, termasuk tumor jinak (pw).
Bersambung


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 25072022 (119).

Sumber ilustrasi : CNN Indonesia,

Minggu, 24 Juli 2022

Negara maritim di tengah lautan sampah

Oleh : Pudji Widodo

    Ilustrasi : perpustakaan.menlhk.go.id


Bila kita tidak mampu menghilangkan budaya "nyampah," 
Tidak memilah dan mengolah sampah, sejak dari lingkungan dan rumah, 
Pemangku kepentingan kota dengan kepedulian yang rendah, 
Penambang liar terus berulah,
Pelaku industri tak takut bertingkah salah,
Semua membebani sungai dan laut - menjadi akhir pemusnah. 

Maka kita hanya akan menjadi negara kepulauan dan negara maritim, di tengah lautan sampah (pw).

"Selamat memperingati Hari Sungai Nasional 27 Juli 2022."

Pudji Widodo,
Sidoarjo, 24072022 (117).

Berita terkait :
Klik Liputan6.com, Tak ada alat berat puluhan ton sampah di Kali Penombo dibuang ke laut.

Kamis, 30 Juni 2022

Dari lapangan tembak ke resto hotel

            Ilustrasi dari : akurat.co

Oleh : Pudji Widodo


Membuka kembali ruang hati

Plat terakhir juga jatuh terkena tembakanku. Lima plat seluruhnya dapat aku jatuhkan. Setelah melakukan tindakan keamanan memastikan pistol tak lagi beramunisi, aku bergeser ke tempat istirahat. Total perolehan nilai perkenaan tembakanku cukup memuaskan.

Sudah lama aku menggeluti olah raga menembak. Sesekali aku mengikuti kompetisi yang diselenggarakan institusi TNI-Polri maupun organisasi Perbakin. Sedangkan untuk memelihara kebugaran aku memilih renang dan bersepeda.

Kali ini aku dan Kalvin memilih menghabiskan akhir pekan di lapangan tembak Kodam, sedang Wening menjadi nara sumber seminar pendidikan. Beruntung Kalvin pun berminat sehingga menembak menjadi media mempererat komunikasi bapak dan anak. 

Panggilan telepon dari Rully membuat aku menjauh dari Kalvin yang sibuk mengemasi combat gear bag-nya.
"Kok bunyi dar der dor, Mas lagi di mana sih ?"
"Lapangan tembak, ini sudah selesai latihan."
"Tembaklah aku. Aku tidak akan menghindar lagi,"
"Kan Rully dulu yang menembakku, terus lari kembali ke kelas." Godaku.
Rully tertawa lalu memberitahu bahwa minggu depan dia ada di Surabaya.

Sesuai janji, aku menemui Rully di resto hotel tempat dia menginap. Siang itu aku lebih banyak menjadi pendengar. Ada gelak tawa ketika menyinggung kekonyolan kami dulu.   Namun ada juga genangan air mata ketika dia mengisahkan perilaku suaminya melengkapi apa yang sudah dia ungkapkan via WA.

Menurut Rully, ada nilai yang ingin dia tanamkan kepada kedua anak perempuannya. Tentang kesetiaan kepada suami apapun keadaannya. Itulah nilai ideal yang dia tanamkan, meskipun tentu saja tidak tersampaikan kepada kedua anaknya, bahwa yang dia lakukan hanya lahiriah semata.

Memilih Yunan juga lebih didorong ketaatan kepada orang tua. Rully yang pintar dan mandiri tetap saja tak bisa menghindar dari ide konservatif keluarganya. Baru aku mengerti ketika dalam suratnya dulu Rully menyebut "....menikah. Meski tidak dalam suasana bahagia......"

"Lalu nilai apa yang akan dibaca anak-anakmu tentang kita?" Aku mencoba mengulik.
"Tak mungkin aku sampaikan."
"Maksudmu biarkan itu menjadi rahasia kita?" Aku mencoba memastikan.
Rully mengangguk.
"Aku tak bisa menipu perasaanku. It's the second falling in live with you."

Aku menggenggam tangan Rully, wajah sendunya berubah riang disusul tawa lirih.
"Mas dulu menggandeng tanganku saja tak pernah." Ganti aku yang tertawa. 
"Aku bisa memberimu lebih dari itu Rully" kataku dalam hati. Seberkas hasrat lakiku bangkit.
"Ada CCTV lho." serasa dia mampu membaca hasratku.
"Ada malaikat yang mencatat kehadiran kita." Tukasku. 

Kami tak bisa memanjakan kemauan untuk terus menikmati istirahat siang. Rully ganti yang menggenggam tanganku sebelum kami berpisah. "Terima kasih" bisiknya sambil merapatkan bahunya ke lenganku. Aku membalasnya dengan pelukan ringan di bahunya.

Satu pesan WA Rully kuterima dalam perjalananku kembali ke kantor.
"It's  the second falling in love with you." Rully mengulang apa yang telah dia sampaikan dengan emoji wajah menangis.
"Kali ini tak perlu malu dengan berlari mendahului masuk kelas."
Dia membalas dengan rangkaian tawa emotikon.
"Senang bisa membuatmu riang kembali?" Aku membalas.
"Hanya itukah Mas?"
"Sudut ruang hati yang pintunya yang selama ini terkunci telah kubuka kembali." Aku menegaskan.

******************************************

Klinik Bakti Sentosa

Sore ini aku mengantar Wening menjalani pemeriksaan papsmear rutin. Wening rutin melakukan skrining kanker leher rahim. Tahun lalu hasilnya dalam batas normal. Semoga kali ini juga demikian. Riwayat keluarga yang membuat Wening melakukan upaya preventif termasuk melakukan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV).

Tiga dari enam bersaudara perempuan Wening semuanya punya pengalaman operasi tumor. Dua orang menjalani histerektomi dan seorang adiknya sedang menjalani kemoterapi karena kanker payudara. Kecuali adik bungsu Wening yang baru saja menjalani operasi batu empedu.

Wening selalu memeriksakan papsmear di klinik Bakti Sentosa. Semula klinik ini dikelola salah satu dokter senior dan guru besar patologi anatomi senior di Surabaya dan kini diteruskan oleh anaknya. Menurutku biaya periksa laboratorium PA termasuk ringan karena ada semangat karitas dari keluarga dokter tersebut.

Di ruang tunggu klinik tersedia brosur manfaat berbagai tanaman anti kanker. Almarhum guru besar patologi anatomi tersebut memang pemerhati obat tradisional dan fitofarmaka. RSUD dr. Soetomo juga membuka poliklinik layanan tradisional sebagai bentuk pelayanan komplementer yang diamanatkan dalam UU Kesehatan.

Dari klinik Bakti Sentosa kami singgah di Restoran Thailand di jalan Embong Kenongo. Nikmatnya hidangan pembuka Sweet Cassava dan menu utama sup ikan serta tomyam yang mendorong kami datang ke resto ini. 

Wening yang lapar lahap menyapu menu pesanan. Aku memperhatikan istriku yang sedang menyesap kuah tomyam. Sebersit rasa bersalah menusuk relung hati. 

Sadar menjadi pusat perhatian, Wening meletakkan sendok supnya.
"Kenapa sayang ?"
"Kita belum pesan makanan buat Kalvin." Aku mencoba mengalihkan rasa bersalahku.
"Nasi goreng seafood saja," 
"Tidak ada yang tergolong aprodisiak untuk kita." 
"Nggak masalah, nanti ya." Wening mengerdipkan kelopak mata kirinya.

Di rumah Kalvin riang menerima kemasan nasi goreng. Aku telah berpesan kepada Kalvin untuk tidak makan malam dulu. Sementara Kalvin menikmati nasi goreng, aku langsung menyiapkan bahan paparan untuk besok pagi. 

Aku menyempatkan ke kamar Kalvin setelah slide power point-ku selesai. Kalvin masih mengerjakan proyek kelasnya.
"Tidur dulu Pi, biar aku jaga tandon air." Kalvin menunjukkan partisipasinya dalam urusan domestik.

Wening menaruh gawainya, ketika aku membuka pintu kamar dan menguncinya. Alunan saksofon Kenny G bagi Wening kali ini menjadi pilihan untuk pengantar tidur. Satu isyarat yang harus ditanggapi. Setidaknya mengurangi rasa bersalahku yang telah melakukan emotional cheating dengan Rully.

Begitu aku berbaring dia langsung meletakkan betis kanannya di atas tungkaiku. Aku meraih Wening ke dalam pelukanku sebagai respon terhadap stimulus betis kanannya. Malam itu kami bercinta dan ketika selesai Wening berbisik "Terima kasih Pi." sambil memelukku.

Dalam temaram kamar aku telah memberikan totalitas diri yang membawa Wening ke puncak kepuasan. Lebih tepat disebut totalitas fisik, karena sebenarnya yang terjadi adalah aku membayangkan melakukannya untuk Rully. "Ah Wening, maafkanlah aku." Keluhku dalam batin (pw)


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 10062022.(114)
Sumber foto : klik akurat.co, 31/1/2021

Kisah sebelumnya : Kita yang mana Mas.
Telah diunggah di eskaber.com, 26/6/2022.
Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Jumat, 17 Juni 2022

Spanduk baru warung sate Buk Yuleka

(Ilustrasi warung sate asli madura, sumber : klik restaurantguru.com)

Oleh : Pudji Widodo

Sesuai kesepakatan dalam forum arisan kaum bapak, Cak RT melalui grup WA kembali mengulangi informasi bahwa hari minggu akan ada kerja bakti. Beberapa warga yang telah senior usianya memanggil Ketua RT yang masih muda, yang meskipun bersuku Batak dengan sebutan Cak RT.

Mat Sokeh bukan tidak loyal kepada keputusan bersama warga dan Cak RT, namun ada hal yang menurutnya lebih urgen sehingga dia memberanikan diri minta ijin ke Cak RT bahwa dia tidak bisa ikut kerja bakti. Beruntung Cak RT bijak memberi keleluasaan kepadanya untuk kali ini tidak hadir kerja bakti.

Mat Sokeh bukan tergolong SSTI, suami-suami takut istri, tapi pendapat dan permintaan istrinya benar- benar masuk akal untuk dituruti. Pagi itu dia pergi ke rumah Hanafi, saudaranya yang punya usaha percetakan dan sablon. Dia minta tolong untuk dibuatkan spanduk identitas warung satenya.

Perkembangan kekinian menyebabkan spanduk yang selama ini terpasang di warung satenya harus diganti. Semalam istrinya yang membuka persoalan. Isterinya pun meneruskan informasi dari Riduan anak sulung mereka.

"Kita bisa terancam kehilangan pelanggan." Keluh isterinya.
"Wah kamu ini gampang percaya medsos dan hape."
"Anakmu yang bilang gubernur sampai ikut sibuk memeriksa dan ada ustad usul agar polisi memproses pelakunya." 
"Itu kan soal rendang, lha kita kan jualan sate."
"Itulah gunanya Riduan sekolah, jadi lebih pintar dari kita. Katanya, jangan cuma melihat ancaman, tapi juga peluang."

Mat Sokeh tak mau memperpanjang debat. Dia tak mau tidur di luar kamar gara-gara beda pendapat. Mat Sokeh  berjanji kepada istrinya besok pagi berangkat ke rumah Hanafi, sambil mulai mengangkat daster isterinya.

Besok paginya Hanafi tanggap terhadap persoalan yang dikemukakan Mat Sokeh. Tak perlu menunggu pegawainya datang, dia langsung menghidupkan komputer. Digarapnya sendiri order dari kawannya, tanda solidaritas antar teman bergelar MA, Madura Asli.

Beberapa konsep ditawarkan Hanafi kepada Mat Sokeh. Ada kesamaan dari beberapa gambar rencana, yaitu selalu tercantum tulisan dan foto isterinya "Buk Yuleka." Buk adalah lafal Madura untuk pengucapan "Bu" dalam bahasa Jawa. Nama isteri Mat Sokeh telah digunakan sebagai brand sejak pertama kali warung dibuka.

Mat Sokeh telah memilih satu dari beberapa konsep spanduk yang dirancang Hanafi. Sungguh beruntung dia punya teman bersama dulu di pondok pesantren di Bangkalan. Bedanya Hanafi melanjutkan kuliah diploma teknologi informasi, sedang dia langsung kawin dengan Yuleka dan buka warung sate.

************************************

Dengan penuh percaya diri Mat Sokeh menuju Balai RT. Beruntung kerja bakti masih berlangsung ketika dia sampai di lingkungan rumah tinggalnya. Bermodal tas plastik berisi pisang goreng, ote-ote dan cakwe dia yakin ketidakhadiran dirinya dalam kerja bakti dimaklumi warga RT lainnya.

"Bagaimana Bang ?" Selidik Cak RT sambil mengambil sepotong cakwe.
"Alhamdulillah, sudah beres Cak RT. Memang spanduk sudah buram, sudah waktunya ganti. Gsmbar Yuleka juga sudah nggak jelas lagi." Jawab Mat Sokeh tanpa menyinggung persoalan sebenarnya.

"Dari mana Cak?" Ganti Samsuri tetangganya yang bertanya ketika Mat Sokeh menawarkan diri menggantikan menggendong mesin pemotong rumput.
"Tadi sebentar ke percetakan." Lalu mereka berdua bertukar peran memotong rumput.

Jam sepuluh kerja bakti pun bubar. Mat Sokeh bergegas pulang. Di dapur Yuleka sedang meracik bumbu gulai.
"Lepas zuhur nanti Hanafi akan mengantar spanduk pesanan kita." Mat Sokeh mendahului menceritakan hasil kerjanya sebelum ditanya istrinya.
"Semoga yang kita khawatirkan tidak terjadi." Tukas Yuleka sambil memblender cabai untuk sambal.

Sesuai janjinya Hanafi datang mengantar spanduk baru pesanan Mat Sokeh. Buk Yuleka tersenyum puas ketika gulungan spanduk dibuka dia bisa melihat gambar dan narasi sudah sesuai keinginannya. Dia lalu minta suaminya mendahului berangkat ke lokasi warungnya untuk melepas spanduk lama dan menggantinya dengan spanduk baru.

Bergegas Mat Sokeh melaksanakan "arahan" isterinya. Setelah spanduk terpasang, Mat Sokeh mendokumentasikan hasil kerjanya dan mengirim foto via WA ke isterinya. Tidak lama kemudian foto warung dengan spanduk baru sudah terunggah di grup WA Dasa Wisma, kader posyandu dan PKK RT.

Seperti juga isterinya, Mat Sokeh pun mengunggah foto tersebut ke grup WA kaum bapak di RT.
"Mantap Bang, asli," komentar Cak RT. Berikut rangkaian komentar anggota grup lainnya :
"Keren, penjualnya asli, daging satenya pun asli."
"Semoga berkah Cak."
"Tidak ada alasan untuk ragu, dijamin halal.”

Ya, pada spanduk baru tertulis jelas : "Warung sate Buk Yuleka, Madura Asli.” Bukan hanya itu, sesuai pesanan, Hanafi pun mencantumkan :  “Ayam dan Kambing Asli." Semua itu dilakukan agar pelanggan tidak terpengaruh riuhnya perbincangan tentang rendang di restoran “babiambo.” (pw).


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 15062022.(116)
Sumber : klik CNN Indonesia, 10/6/2022

Cerita fiksi ini telah ditayangkan di : klik eskaber.com, 16/06/2022.

Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.




Senin, 13 Juni 2022

Kita yang mana Mas

Kita yang mana Mas ?

(Ilustrasi TTM, sumber gambar : me.me)

Oleh : Pudji Widodo

Kisah Sebelumnya 

Wening dan Kalvin

Sampai di rumah, Kalvin yang menyambutku.
"Pulang dari Malang, Mami langsung tidur Pi."
 Hari ini Wening memang ada tugas ke Malang. Kupandangi wajahnya, dengkur halus napasnya membuatku tak tega membangunkannya.

"Papi mau lemon tea ?" Kalvin mencoba menggantikan peran maminya.
"Cangkir kecil aja ya,"
Sementara Kalvin menyedu lemon tea, aku menghapus jejak berbalas pesanku dengan Rully sepanjang perjalanan pulang kantor. Satu langkah awal menutup kebohongan. 

Kalvin meletakkan secangkir lemon tea di meja kerjaku lalu melanjutkan merangkai model kit kapal Titanic. Anak tunggalku ini gemar mengoleksi action  figure super hero, diecast mobil pemadam kebakaran, aneka model kit mesin perang. Dia membeli semua itu dengan uang tabungannya sendiri.

Awalnya aku membelikan action figure Batman, Hulk dan miniatur Batmobile untuk menebus kekurangan perhatianku kepada Kalvin. Aku hampir tak pernah mengikuti tumbuh kembang Kalvin sampai dia klas 2 SMP. Mutasi dan tugas kantorku membuat Wening mandiri membesarkan Kalvin. 

Di usia satu tahun Kalvin mengalami luka bakar ringan di perut dan pahanya. Saat itu baby walker-nya menabrak meja makan dan menumpahkan teh yang baru saja disedu di teko dengan air mendidih. Aku berada di Jakarta ketika Wening membawa Kalvin ke IGD rumah sakit. 

Berkat pertolongan pertama yang tepat, luka bakarnya tak menimbulkan bekas permanen. Wening sudah mengguyur area luka dengan air mengalir. Hal ini dilakukan agar panas tidak menjalar ke jaringan yang lebih dalam. 

Ketika Kalvin mengalami kejang demam di usia satu setengah tahun aku sedang di Halmahera. Di usia pra TK, Kalvin sudah bisa membaca dan itu dipamerkan via telepon saat aku di Maumere. Tahun pertama Kalvin di TK, bersama sepupunya yang seumur hampir saja dia membuat rumah terbakar. Saat itu aku berada di Sorong.

Begitulah hampir semua urusan domestik Wening yang membereskan. Ini terkait kesepakatan kami, Wening yang pegawai negeri menetap di Surabaya, sedang aku yang kuli perusahaan asing nomaden. Situasi ini mendorong Wening menjadi perempuan perkasa.

Wening hadir dalam hidupku dalam suatu rapat bakti sosial. Aku mewakili kantor sebagai mitra pendukung dana  Corporate Social Responsibility (CSR) sementara Wening sedang melaksanakan KKN di lokasi baksos. Wening seperti kunci yang mampu membuka kembali gembok kotak erotis yang lama tertutup rapat. Entah kenapa selama kuliah dan setahun bekerja tak ada satu pun perempuan yang menarik perhatianku. 

Lalu kini muncul kembali sosok Rully. Ada satu pesan pada awal kami mulai menjalin komunikasi kembali begini : "dalam hening malam melintas seseorang yang sudah tenang dengan keluarganya, apakah ini zina batin?" Lalu aku menggodanya dengan ganti mengirim grafiti meme berbagai bentuk pertemanan TTM.

"Terus kita yang mana Mas ?" Sejak bertemu kembali, Rully memanggilku Mas.
"Aku mau yang Teman Tapi Mencintai dan Teman Tapi Menyayangi." Aku melanjutkan godaanku. Sehari kemudian di kolom info WAnya tertulis "you are mine."

*************************************

Vivere pericoloso

Aku mencermati perubahan sikap Rully. Terjebak romantika masa lalu, tulus atau  bentuk petualangan. Tapi apapun motivasinya, jujur aku menikmatinya. Tak ada niat di benakku untuk menghindar.

Ini paradoks dengan saat aku kuliah dengan penuh semangat untuk mengalihkan semua perhatianku kepada Rully. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pelestari Bumi dan Alam (Wapeba) dan UKM Fotografi Citra Merdeka menyita waktuku. Apa lagi setelah pada tahun kedua kuliah aku terima surat Rully.

Rully yang tidak tahu alamatku tinggal di Semarang mengirim surat itu ke alamat rumah di Surabaya.
"Pras aku mau menikah. Meski tidak dalam suasana bahagia, tapi itulah perjalanan yang mesti aku lalui. Aku hanya tetap merasa perlu memberitahumu." 

Anehnya selama itu aku sering bertemu Rully dalam mimpi. Rupanya dalam realita seakan Rully telah hilang dari hidupku, namun tidak dalam alam bawah sadarku. Fenomena ini sesuai pendapat Sigmund Freud bahwa mimpi merupakan jembatan antara dunia eksternal dengan perasaan, kesan maupun keinginan terpendam.

Kini mimpi itu menjadi nyata. Rully kembali berhasil mengusik ketenangan hidupku. Seperti gelombang tsunami yang meruntuhkan semua bangunan di pantai. Runtuh pula semua niat untuk melupakan masa lalu. Riang gejolak asmara remaja telah bertransformasi menjadi gelora cinta manusia dewasa.

Lalu segalanya mengalir seperti air yang mencari ceruk rendah mengikuti gravitasi. Rully mengisahkan perlakuan kekerasan suaminya pada salah satu periode hidupnya. Meski hal itu berhasil dilewatinya seiring kemampuan Rully menanggung kebutuhan ekonomi keluarganya.

Sementara suaminya mengalami disabilitas pasca operasi aneurisma pembuluh darah otak yang menyebabkan suaminya stroke. Hilang kegarangan fisik dan verbalnya, juga tak mampu lagi bekerja. Rully juga mengisahkan di saat-saat seperti itu beberapa pria yang mencoba mengajaknya menikah dan meninggalkan suaminya yang sakit.

"Aku tidak mendramatisasi Mas. Itulah yang sesungguhnya terjadi."
"Lalu soal lamaran para pria itu?"
"Hidup bersama Yunan adalah risiko pilihan, aku akan jalani sampai maut memisahkan kami."
"Bagaimana dengan kita?"
"Beda, sejak kita bertemu, aku seperti masuk ke pusaran air dan tak mampu keluar."
"Aku pun begitu"
"Selamat datang cinta, sampai besok ya Mas."

Itulah model komunikasi kami, berbalas pesan di tengah hari kerja dan segera menghapusnya sebelum sampai di rumah. Kembali menjalin kasih tanpa merusak bangunan yang sudah ada. Sampai kapan kami akan ber-vivere pericoloso ?

Bagi Rully mungkin ada pembenar setelah rangkaian kekerasan yang dialaminya. Tapi apa alasanku untuk menciderai semua kebaikan Wening. Sampai saat itu aku belum menemukan jawabnya (pw).
(bersambung)


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 09062022 (115)
Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Sumber gambar : klik  me.me
Cerita fiksi ini telah diunggah di : klik   eskaber.com 13/6/2022.



Minggu, 05 Juni 2022

Sebaris pesan pemutus kebersamaan (1)


Matahari terbit di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru (KOMPAS.com, 5/12/2021 /ANGGARA WIKAN PRASETYA).

Oleh : Pudji Widodo

Di tepi lapangan basket.

Sore itu kami bertemu di tepi lapangan basket. Rully dan Hevi akan menuju ke tempat parkir motor sedang aku akan ke sanggar Pramuka. Rully menghentikan langkahnya dan membiarkan Hevi melanjutkan berjalan sendiri. Hevi paham tak mau mengganggu kami.

Rully menggamit lenganku. Sejenak kami bergeser ke sudut laboratorium elektronika.
"Mengapa kamu tidak pernah marah kepadaku ?" Rully lebih dulu membuka diri.
"Untuk apa?, tak baik menyimpan marah"

Bening bola matanya menatapku serasa meminta kepastian.
"Sudahlah, banyak yang lebih penting untuk kita persiapkan dari pada membicarakan itu". Aku melanjutkan.
"Kebersamaan kita tinggal sebentar Pras."
"Tak ada yang salah di antara kita, keputusanmu benar. Aku yang terlalu berharap padamu Rully."
"Karena itu aku minta maaf."
"Aku juga minta maaf, salah kata, salah sikap selama kita bersama. Juga salah menaruh hati, hehehe." Aku mencoba meredakan tekanan situasi.
"Terima kasih Pras"
 "Nah Hevi tentu gelisah menunggumu." Aku menepuk lengan Rully.

Kami berpisah, sampai tangga sanggar pramuka aku sempatkan menengok ke arah shelter parkir motor. Pada saat yang sama Rully menoleh ke arahku. Ada getar lirih di dada kala kulambaikan tangan. Gadis berambut panjang sepinggang itu membalas melambaikan tangan sebelum motornya bergerak meninggalkan shelter parkir.

Dua minggu lagi kami akan menghadapi ujian akhir SMA. Itulah perbincangan serius yang terakhir antara kami. Rully sempat menyampaikan keinginannya melanjutkan belajar di Solo, sedang aku tidak memberitahu pilihan minat belajar selanjutnya.

Mungkin karena itu dia memerlukan kepastian. Bila selanjutnya kami tak bisa bertemu lagi, dia telah mengetahui bahwa tak ada luka di antara kami. Segurat luka akibat keputusan menjelang  libur kenaikan kelas setahun lalu yang harus aku terima. 

Keputusan dalam sebaris pesan pendek "Pras kita tidak bisa bersama lagi." Tulisan singkat pada secarik kertas itu ada di antara lembar halaman buku " Seratus hari di Surabaya yang menggemparkan Indonesia," Seminggu lalu aku membantu Rully meminjam buku karya Ruslan Abdulgani, karena jumlah buku pinjamannya di perpustakaan sudah maksimal. 

Dua kegiatan besar persiapan dan pelaksanaan Perkemahan Wirakarya dan Raimuna Nasional Pramuka Penegak membantu mengalihkan hari-hari tanpa Rully. Gunung Ijen, Gunung Semeru, Gunung Arjuna, Taman Nasional Baluran menjadi sasaran mengolah batin, memperkuat daya juang mengatasi kompetisi di masa depan yang lebih rumit dibanding soal putus cinta.

********************************************


Bunga kelas kembali hadir.

"Dik Pras, dicari mantanmu tuh." 
Aku menghentikan gerak senamku. Acara reuni SMA  kali ini, diawali dengan olahraga senam. Mas Noval, kakak kelas menepuk bahuku lalu menunjuk seorang wanita yang berdiri sendiri sepuluh meter di kanan belakangku.

Aku menghampiri perempuan yang bercelana hitam, atasan hijau dipadu pasmina, berambut pendek dengan kacamata minus. Belum sempat aku mengucap salam, dia telah mengulurkan tangan "Aku Rully."
Ya Tuhan, setelah 17 tahun lenyap bak ditelan bumi, hari itu kami bertemu lagi. Ini reuni ketiga setelah kami lulus. Rully masih tetap mempesona.

Kebetulan pada reuni pertama dan kedua aku bisa hadir, sedang Rully tidak. Hampir semua teman sekelasnya menanyakan tentang Rully kepadaku. Mengingat kedekatan kami dulu, mereka tak percaya saat aku cuma mengangkat bahu. 

Aku tidak melanjutkan senamku, dan mengantar Rully ke tempat teman-temannya berkumpul. Belum sampai bergabung dengan teman-teman sekelasnya, riuh godaan telah menyambut kami. Untung Wening isteriku tidak ikut hadir.

Kutinggalkan Rully bersama teman-temannya sekelas. Kami dulu bersama di tahun pertama SMA. Tahun berikutnya saat penjurusan,  dia masuk kelas Sosial-Bahasa, sedang aku berada di kelas IPA-Matematika.

Di gerobag bakso aku bertemu Leksa, adiknya Hevi. "Mas Pras, ada Mbak Rully, aku ketemu di meja pendaftaran." Dengan antusias Leksa memberitahuku. Tadi Noval, sekarang Leksa, mungkin menurut mereka kehadiran Rully merupakan berita besar buatku.

Lebih dari sekedar berita, bahkan awal dari kisah panjang berikutnya. Rully sempat mencatat nomor HPku, sebaliknya aku sengaja tidak menanyakan hal itu kepadanya. Sebulan setelah reuni sekolah, satu pesan WA pertama dari Rully aku terima dalam perjalanan pulang kantor. 

Inisiatif mengawali komunikasi kembali antara kami datang dari Rully. Ini seperti mengulang apa yang terjadi delapan belas tahun yang lalu. Rully meletakkan secarik kertas ketika dia melintas bangkuku. "Nanti kita pulang bareng yuk", Pesan singkat di kertas itu membangkitkan gairahku sebagai pria remaja yang pertama kali mendapat perhatian dari lawan jenis.

Rully adalah bunga kelasku. Beberapa teman sekelas, lain kelas, juga kakak kelas adalah sekian pria muda yang lebih dulu mencoba menarik perhatian Rully. Semua tingkah mereka diungkapkan Rully kepadaku ketika kami telah menjadi teman dekat.

"Kan tinggal pilih, gitu aja kok repot" godaku spontan menanggapi apa yang dia ceritakan.
Rully mencubit ringan lenganku.
"Iya aku sudah memilih, aku cinta padamu." Kalimat itu meluncur dari bibir Rully bersama dengan bunyi bel  istirahat berakhir. Rully mendahului lari kembali ke kelas.

Aku masih berdiri terpaku ketika Rully setelah sampai di depan pintu kelas membalikkan badan dan menjulurkan lidah. Aku membalasnya dengan mengacungkan kedua ibu jariku. Itulah tanda sepakat kami saling memiliki. Sebuah babak baru dalam kehidupanku sebagai remaja pria.

Rekam jejak kebersamaan kami seperti diputar ulang, satu demi satu tertayang. Seperti barisan tiang lampu jalan tol perak-waru, yang muncul satu persatu seiring laju mobil yang membawaku pulang dari kantor (pw).


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 04062022.
(bersambung)

Sumber foto : klik kompas.com, 5/12/2021

Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


Kamis, 28 April 2022

B-3 Banjir Bandang Bima

(Letkol Laut dr. Aminuddin Harahap, Karumkitlap Satgaskes PRCPB TNI saat menerima kunjungan Wapres Yusuf Kalla, Banjir Bandang Bima Januari 2017, foto dokpri)

Oleh : Pudji Widodo

Alamku,
Kucoba mengerti tentang marahmu.
Saat air bahmu menggulung kota,
musnahkan semua dan sisakan nestapa.
Tinggalkan lumpur sampah sesakkan dada.

Alamku,
Kucoba mengerti tentang marahmu.
Di antara kami bukan hanya tak ramah, tapi juga serakah.
Kau yang hijau, elok dan indah.
Telah kami rusak jadi cadas tak berbuah.

Alamku,
Kami telah engkau ingatkan.
Untuk berbenah, menata pikiran dan tindakan.
Mengelola bumi dengan penuh kearifan.
Karena sejahtera bukan kami nikmati sendiri.
Namun kami wariskan kepada setiap generasi.


Pudji Widodo, 
Sidoarjo, Januari 2017 (111)

(Menjelang purna tugas Satgaskes PRCPB TNI, Bima Januari 2017, dokpri tangkapan layar di Kalender HP)

(Revitalisasi Puskesmas Paruga Kota Bima, dimulai dari pembersihan lumpur, foto dokpri)

(Letkol Laut drg Bahtiar Efendi, Pasops Satgaskes PRCPB TNI, memimpin pembersihan lumpur di Puskesmas Paruga Kota Bima, foto : dokpri).

Pudji Widodo, 
Sidoarjo 29042022 (110)
Hari Puisi Nasional 28042022.

Bawalah aku pergi

Ilustrasi : iStockphoto/Motortion via CNN Indonesia , 24/5/2022. Bawalah aku pergi Pelan tapi pasti Rully merasu...