Rabu, 23 Maret 2022

[Cerpen] Yang Tertinggal di Liquisa

Yang Tertinggal di Liquisa

(Ilustrasi bakti sosial kesehatan di P. Atauro 1996, dokpri)
 
Oleh : Pudji Widodo

Lampu-lampu kota Dili tampak makin jelas menegaskan garis pantai ketika KRI Biak-594 telah berada 2 nm dari pelabuhan. Jarum jam tanganku menunjuk 20.30, sebentar lagi kapal berjenis Landing Craft Utility (LCU) ini akan merapat di dermaga. Mengapa waktu cepat berlalu keluhku.

Keluh yang berbaur dengan sejumput bahagia, jadi apa namanya? Tak terkatakan, tapi bisa kurasakan. Dua hari kebersamaanku bersama Joan dalam bakti sosial di Pulau Atauro, membuatku tak ingin baksos segera berakhir.

Baksos yang dilaksanakan Lanal Dili dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera 15 Januari 1999. Untuk kegiatan ini Lanal Dili dibantu personel Satgas Kesehatan Puskes TNI  dan unsur kesehatan satuan samping. Joan yang bertugas di Puskesmas di Liquisa sengaja mengambil hak cutinya di tahun 1998 pada Januari 1999 agar dapat membantuku.

Ini tahun kedua Joan bertugas di Kabupaten Liquisa. Dia memilih Bumi Lorosae sebagai daerah wajib kerja dokter program Depkes RI. Sebuah pilihan yang relatif berani bagi seorang dokter perempuan di tengah ekskalasi perlawanan kelompok antiintegrasi Timor Timur.

Keluar dari rutinitas tugas pangkalan dan berbaur dengan teman-teman seprofesi dalam temu ilmiah, penting bagiku untuk mengikuti perkembangan iptek kedokteran. Acara ilmiah yang digelar IDI setahun yang lalu telah mempertemukan kami. Rasanya ada kecocokan dan tumbuh alamiah saling keterikatan di antara aku dan Joan.

*************

Setengah jam dibutuhkan untuk proses KRI Biak-594 memantai dan merapat ke dermaga. Tak lama kemudian rampa haluan kapal telah terbuka. Satu persatu personel pendukung baksos bergerak meninggalkan kapal.

Mobil-mobil dinas berjajar di dermaga. Termasuk ambulan dari Puskesmas Becora yang akan menjemput Joan. Selama di Dili, Joan menginap di rumah dinas Kepala Puskesmas Becora.

"Titip salam hormat dan terima kasih untuk Kapuskesmas. Surat ucapan terima kasih dari angkatan laut untuk Kadinkes Liquisa segera dikirim." Kataku sambil merengkuh bahu Joan.

"Pak Valen terima kasih ya, titip Bu dokter".

"Sama-sama Pak dok, beres. Terima kasih sudah ajak saya ke Atauro" balas perawat Valentino yang sudah berstatus PNS. Aku membalas lambaian tangan Joan dan Pak Valentino ketika ambulannya bergerak meninggalkan dermaga.

Di depan rampa kapal, Bintara Perbekalan Sertu Megantoro menyongsongku.
"Arahan dok bagaimana material kita?"
"Sesuai rencana, debarkasi besok, korve setelah apel pagi." Jelasku singkat.

Rencana debarkasi material besok pagi kusampaikan kepada Komandan KRI Biak-594 Kapten Warsito. Maksudku agar anggota bisa kembali ke mess untuk istirahat. Hanya tinggal material pendukung milik Lanal, karena sembako dari Dinsos, alat-alat olahraga dan bahan kontak peralatan sekolah sumbangan dari Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) telah terdistribusi habis untuk masyarakat Pulau Atauro.

Menurutku masyarakat P. Atauro menyambut baik baksos hari Darma Samudera. Meskipun demikian apakah ini berhasil merebut dan memenangkan hati masyarakat, sebagaimana tujuan kegiatan sesuai perintah komando atas. Kegiatan civic action semakin sering dilakukan setelah Presiden Habibi mengajukan opsi otonomi luas pada 9 Juni 1998.

Aku tak yakin apakah kita berhasil memperkuat posisi prointegrasi, bagiku yang penting perintah atasan telah kulaksanakan. Yang mengejutkan bagi kami para prajurit, dua minggu setelah baksos, pada 27 Januari 1999, Presiden Habibi bersurat ke PBB mengusulkan rencana jajak pendapat bagi rakyat Timor Timur.

Usai baksos, beberapa kali Joan sempat turun ke Dili. Sebagai dokter sipil, mobilitas Joan lebih leluasa dibanding aku. Beribadah di Gereja Motael, menikmati nasi goreng mbak Nanik di kawasan Becora, menikmati pasir putih pantai Hera dan mengunjungi kawasan patung Kristus Raja adalah agenda kebersamaan kami. Atau bila tidak kemana-mana, cukup di mess dokter RSUD lalu rame-rame masak dan bakar ikan.

Namun bukan berarti aku tak pernah mengunjungi Joan di Liquisa. Beberapa kali aku sempat menumpang mobil Mas Hindarto, seorang kontraktor asal Semarang ke Liquisa. Meskipun nilai proyeknya semakin kecil, tapi Mas Hindarto tetap sering hilir mudik Dili-Liquisa. Di Liquisa dengan sepeda motor inventaris proyek Mas Hindarto, aku bisa mengunjugi Joan. Dari Mas Hindarto pula aku mengetahui banyak para pengusaha sudah mulai menggeser asetnya ke Kupang Timor Barat.

Kunjunganku ke Liquisa meneguhkan kebersamaanku dengan Joan. Bersama merajut rencana masa depan termasuk keinginan melanjutkan pendidikan spesialis, Joan berminat pada bidang  pediatri. 

Ketika menyertai evakuasi medis seorang prajurit ke Surabaya, aku sempatkan berkunjung ke Magelang menghadap orang tua Joan untuk memperkenalkan diri.

*********

Awal Pebruari 1999, terbit telegram mutasi ke Jakarta untukku. Beruntung tiga bulan sebelumnya, Komandan Lanal dengan bijak meneruskan permohonanku dan menindaklanjuti dengan pengusulan diriku mengikuti pendidikan lanjutan spesialis perwira. Dengan demikian di satuan baru nanti, aku tidak perlu mengajukan permohonan lagi.

Kabar gembira itu segera kusampaikan kepada Joan. Aku mendorong agar Joan mengajukan cuti ke Jawa. Maksudku bila dokter pangkalan penggantiku datang, kami bisa bersama-sama ke Jawa dan minta ijin orang tua agar kami bisa melaksanakan pertunangan. Semuanya tentu saja kemudian kami komunikasikan kepada orang tua.

Awal Maret 1999, dengan kapal Pelni KM Dobonsolo kami berdua kembali ke Jawa. Beberapa sejawat dokter dan penggantiku dr. Bagus, mengantar kami di dermaga pelabuhan Dili. Perkembangan kebijakan pusat tentang status Timor Timur dan situasi lokal sempat kami perbincangkan. Dokter Novi bahkan bergurau " Nggak usyah balik ke sini lagi Joan".

Semua serba cepat, begitu pula pertunangan kami. Dalam suasana sederhana, yang penting tujuan terlaksana. Keluarga mendukung dan memutuskan bulan Agustus kami akan menikah. Lalu Joan pun segera kembali ke daerah tugasnya.

Ketika mengantar Joan ke bandara Juanda, ada yang lucu rasanya. Biasanya isteri atau calon isteri mengantar suami, kini terbalik aku yang tinggal di Surabaya, dan calon isteri berangkat ke wilayah daerah operasi militer yang situasinya tak menentu. Aneh, bukan aku yang memberi penguatan, justru Joan yang serasa tanpa beban berkata lirih "semuanya akan baik-baik saja Theo".

Setelah melewati detektor metal, Joan masih sempat memalingkan wajah, tersenyum dan melambaikan tangan.

*******

Joan kembali ke Timor Timur yang situasinya menurutku sedikit banyaknya juga tersulut bara reformasi di Jakarta. Kehadiran ormas pamswakarsa binaan aparat keamanan untuk mengimbangi agresifitas kelompok prokemerdekaan, semakin memicu konflik horizontal di bumi Lorosae. Joan mengabarkan semakin banyak terdapat pos-pos pemeriksaan, yang selain dijaga tentara juga diperkuat personel pamswakarsa.

Sejauh ini tidak ada kesulitan bagi Joan dengan ambulannya melintas pos penjagaan tersebut. Sebaliknya kekhawatiranku terhadap keselamatan Joan semakin besar. Di benakku terbayang sekelompok laki-laki yang membawa parang dan cangkul, yang sulit dibedakan apakah mereka benar-benar petani yang melintas jalan raya pulang dari kebun ataukah kelompok klandestin yang mengincar kelemahan pos-pos aparat keamanan.

Pada paruh pertama dekade 90-an, kasus kekerasan yang dilakukan Falintil relatif mereda karena berubahnya pola perjuangan lebih mengutamakan protes atau demonstrasi umum di perkotaan. Hal ini tentu semakin menarik perhatian internasional. 

Namun antara 1996 dan 1998 terjadi kembali lonjakan kekerasan yang dilakukan oleh Falintil, bukan hanya di bagian timur seperti pada tahun 1980-an, tetapi merata baik sektor timur maupun barat. Beberapa hari sebelum pemilihan umum Mei 1997, anggota klandestin, bersama Falintil, melancarkan serangan yang berani terhadap kompleks Brimob di Bairo Pite, Dili <1> .

Hingga awal Juni, ketika tiba waktunya Joan akan mengakhiri masa tugasnya, dr. Novi meneleponku. "Theo, sudah dua hari Joan meninggalkan puskesmas dan belum kembali." Ambulan yang ditumpangi Joan ditemukan di poros jalan Liquisa - Dili, sedang Ciprianus pengemudinya juga tidak diketahui keberadaannya.

Mungkin sasaran utama adalah Ciprianus, sedang Joan menjadi korban ikutan. Ciprianus yang menjadi pegawai pemerintah dianggap kolaborator yang menghambat kemerdekaan. Suatu bentuk teror bagi warga lokal yang prointegrasi.

Sejak itu Joan pun tidak pernah diketahui, hilang dalam tugas. Kasus hilangnya Joan kurang mendapat perhatian. Beban aparat sudah terlalu berat untuk mengamankan serah terima kekuasaan dengan PBB dan repatriasi.

Rupanya senyum dan lambaian tangan Joan di bandara Juanda adalah yang terakhir untukku (pw).

Pudji Widodo,
Yogyakarta, 070122 (94).

Sumber : [1]

Keterangan :

a. Debarkasi : penurunan penumpang dan muatan dari kapal

b. Korve : kerja bakti untuk meningkatkan kebersihan, kerapihan dan kenyamanan lingkungan kesatrian atau pangkalan.

b. nm : nautica mile

Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Yang Tertinggal di Liquisa", untuk baca : Klik kompasiana.com, 7/1/2022, 
https://www.kompasiana.com/pudji83367/61d60a844b660d1636699fa4/yang-tertinggal-di-liquisa?page=all#section2

Selasa, 08 Maret 2022

[Cerpen] Cangkang Siput Laut, Cindera Mata dari Sebastio

(Ilustrasi Cangkang Siput Laut, sumber foto : www.depositphotos.com)

Oleh : Pudji Widodo

Jam 14.00 WIT, aku beranjak dari ruang tunggu Balai Pengobatan (BP) Lanal Dili dan menutup pintu klinik. Sebelum apel siang, aku biasa menuju ruang sekretariat. PNS Dominggus Kepala Sektetariat (Kaset) Lanal Dili membiarkan aku membaca berbagai surat, telegram dan undangan seperti membaca koran. Bila ada disposisi Komandan Lanal untukku bisa aku kutanggapi saat itu juga. Pak Dominggus tinggal menyodorkan buku yang harus kuparaf sebagai bukti disposisi Komandan telah tersampaikan.

Aku masih berdiri di teras, saat dari arah toko koperasi ada suara menyapaku.
"Selamat siang Pak dok."
Oh Sebastio, aku merasa tidak punya janji bertemu hari ini.
"Pasti dia bawa ikan untuk dokter," Pak Rumbiak, perawat jaga malam ini yang sedang menyapu teras mengomentari kehadiran Sebastio.

Sebastio tersenyum lebar saat kami berjabat tangan 
"Halonusa diak ka lae Sesilia ?"
("Apa kabar Sesilia ?")
"Tambu Sesilia hau mai Papa dok."
("Ya karena Sesilia saya datang Pak dok."
"Prontu sinyora diak ona."
("Semoga nyonya sudah membaik").
"Nia diak ona, obrigado barak. Aimoruk malaria nia husi papa dok diak liu kapas los."
("Dia sudah sembuh, terima kasih banyak, obat malaria dari Pak dok sangat manjur.")

Sesilia adalah isteri Sebastio, 3 bulan yang lalu dia keguguran karena malaria. Saya antarkan Sesilia ke RSUD dengan suzuki katana kendaraan dinas (randis) Perwira Staf Administrasi dan Personel (Pasminpers) Kapten Marinir Siregar. Setelah kuretase, Sesilia belum hamil lagi, malah malarianya yang relaps.

Selama aku mengenal Sebastio, hanya Sesilia dan anak pertama mereka yang datang berobat ke BP Lanal. Aku pernah menyampaikan, bila orang tua, tepatnya paman dan bibinya sakit agar datang ke tempat aku praktek sore , gratis. Personel penjagaan pun sudah hafal dan menjadi gurauan bahwa Sebastio adalah binaanku.

Kami para personel Lanal mengenal Sebastio sebagai penjual ikan keliling. Setiap kali melewati Lanal dia selalu menawarkan ikan yang dia bawa.
Ikan yang sering dia bawa jenis bawal dan baronang. 

Aku sering beli ikan dari Sebastio. Beruntung dr. Ari yang aku gantikan meninggalkan kulkas satu pintu di klinik. Aku bisa menyimpannya di freezer dan sebentar sore bau ikan bakar telah menyebar di halaman belakang klinik.

Selesai jam kerja, aku kembali sebentar ke mess di kawasan Aitarak Laran - Motael. Mengurus cucian baju lalu kembali ke kantor. Aku jarang tidur di mess dan lebih sering menginap di kantor.

Pak Mul, PNS perawat paling senior di klinik, yang menanam dan merawat tanaman cabe dan tomat. Semua perawat BP Lanal Dili jago membuat sambal. Ikan bakar dan sambal adalah salah satu cara menambah variasi dan kualitas gizi jatah makan dari dapur Lanal. Juga menjaga kadar protein tubuh sebagai bahan baku dan memulihkan jumlah sel darah merah yang terdestruksi akibat malaria.

******

Selain memberitahu kesembuhan Sesilia, Sebastio juga membawa barang pesananku. Dia membawa tiga cangkang siput laut berbagai ukuran. Aku minta dia mencarikan cangkang siput untuk kujadikan pajangan meja. Cangkang siput itu akan kubawa pulang saat ada kesempatan cuti kembali "rahkang". Cuti pulang ke Jawa, meninggalkan daerah operasi sementara disebut sebagai kembali ke daerah belakang. Kami biasa menggunakan istilah '"Rahkang."

Meskipun tidak mau, aku memaksa Sebastio menerima uang pemberianku. Dia menjelaskan ikan dan cangkang siput itu titipan dari Sesilia.
"Hau la faan papa dok."
("Saya tidak menjual Pak dok.")
"Hau mos la hola ida, ne hangsan obrigado husi hau to ba onia fen."
("Saya juga tidak membeli, itu tanda terima kasih saya untuk isterimu.")

Kami beriringan meninggalkan klinik dan menyusuri paving block selebar 2,5 m. Jalan paving block itu menghubungkan klinik di bagian belakang areal Lanal dengan lapangan apel. Jalan paving block kubangun agar pengunjung klinik nyaman melintas karena tidak becek.

Ini bukan yang pertama kami berjalan beriringan. Aku selalu memperhatikan bagaimana pandangan Sebastio menyapu seluruh areal kantor Lanal, khususnya bila melewati gudang senjata. Di penjagaan Lanal, meskipun semua anggota telah mengenal Sebastio dekat denganku tetap saja seperti waktu masuk, bekas kantung beras yang dibawanya diperiksa meskipun telah kosong.

Pernah waktu beriringan denganku seperti siang ini, kami bertemu dengan Rodrigo Nacimento yang sedang berbincang dengan Lettu Yosfianto, Pasintel Lanal. Sebastio sekedar mengkonfirmasi "Ne dani Rodrigo karik papa dok?" ("Itu kan Rodrigo Pak dok") sambil meneruskan menyebut nama salah satu kelompok milisi.
"Tebes duni nia Rodrigo. Ami narang colega malu ho ema hitu hanesan. Ita maung alin ho subrinho."
("Ya, betul dia Rodrigo. Kami bebas berteman dengan semua warga masyarakat. Seperti kita juga bersaudara.")

******

Sesungguhnya aku tidak mengenal utuh diri Sebastio. Dia mengatakan keluarga besarnya di Ermera, sejak usia 4 tahun dia ikut paman dan bibinya yang tidak punya anak di Dili. Ketika masuk jaman integrasi, Sebastio baru lahir. Jadi saat masuk Sekolah Dasar, dia termasuk generasi dekade pertama yang menggunakan seragam Pramuka.

Dia juga pernah cerita saat mbolos sekolah karena diajak kakak mahasiswa mengikuti kelompok demonstran di area pemakaman Santa Cruz. Di Santa Cruz pada 22 November 1991, untuk pertama kalinya dia mendengar suara tembakan senjata prajurit ABRI. Di area pemakaman itulah untuk pertama pula Sebastio remaja melihat orang berlarian berlindung dan diataranya ada yang jatuh bersimbah darah.

Tentang isterinya, Sesilia menggantikan bibi Sebastio sebagai pedagang sayur dan berbagai keperluan dapur di pasar Becora. Di lapak - lapak penjualan barang yang memerlukan modal agak besar sebagian besar pedagangnya dari pendatang. Ada nada cemburu ketika Sebastio menceritakan hal ini. Saudara Sesilia ikut membantu kios toko plastik milik orang Jawa.

Sebastio sering memberitahu bahwa 2-3 hari lagi akan ada demo. Dia bilang ada teman di gereja yang selalu memberi informasi. Secara formal hubungan ABRI dengan gereja tampak harmonis.
Uskup Belo selalu hadir pada berbagai acara yang diselenggarakan Korem 164/Wira Dharma. Namun secara pribadi, aku menduga para klandestin berlindung di balik tembok gereja.

Hingga satu hari David Alex, salah satu pemimpin perjuangan bersenjata Falintil dilumpuhkan pasukan ABRI dalam pertempuran di wilayah Caibada, Bacau. Pada 24 Juni 1997, Alex dan empat anak buahnya ditangkap, namun David Alex lalu meninggal dalam perawatan.

Lagi-lagi Sebastio memberi tahu akan ada demo. Mungkin masyarakat akan minta jenazahnya untuk diarak dalam barisan demonstran. Tentu saja Korem tidak akan mau menyerahkan dan memilih memakamkan langsung. Selama David Alex dalam perawatan dan beberapa hari setelah kabar meninggalnya, salah satu KRI yang lego jangkar di lepas pantai Dili selalu menyorotkan lampu secara periodik ke arah pantai pada malam hari.

Benar, ada demo atas meninggalnya David Alex. Ketika barisan itu masih berada di depan markas Kodim Dili, teriakan para demonstran sudah terdengar sampai penjagaan Lanal.
"ABRI pulang saja," "Viva Timor Leste" itulah teriakan para demonstran disertai berbagai caci maki.

Aku berada di lantai balkon Markas Lanal bersama Sertu Pedro, seorang staf intel Lanal yang siap dengan kamera foto. Ketika para demonstran melintas di depan Lanal, teriakan "ABRI pulang saja" kembali bergema. Anehnya ada juga teriakan "hidup marinir, hidup marinir". Sertu Pedro sigap mengambil foto barisan demonstran yang melintas di depan Lanal. 

Ternyata ada truk dengan bak terbuka berada di tengah barisan demonstran. Tepat ketika truk melintas di depan Gedung Markas Lanal, jelas terlihat Sebastio berdiri di sisi kanan bak truk. Rupanya dia pun tahu aku ada di balkon. Maka di antara gemuruh caci maki untuk ABRI, terdengar pula teriakan Sebastio "Pak dokter, terima kasih,"
"Pak dokter." Teriak Sebastio sambil melambaikan tangan.

******

Seperti yang kuwaspadai selama ini, Sebastio sahabat baikku memilih sikap antiintegrasi. Sejak itu Sebastio tidak pernah lagi berkunjung ke klinik Lanal untuk mengantarkan ikan atau berobat. Sampai tiga bulan kemudian dr. Yobi personel Satgas Puskes TNI menelponku. Dokter Yobi mengatakan bahwa ada pasien luka tusuk di perut minta ijin bertemu denganku.

Ketika sampai di ruang High Care Unit (HCU), aku segera mengenali pasien itu. Sebastio mencoba membuka matanya ketika aku menyentuh punggung tangannya.
"Papa dokter, hau itusu diskulba. Hau ba Viqueque. Hau sidauk lori fobinang."
("Pak dokter saya minta maaf, saya pergi ke Viqeqe. Saya belum sempat kirim cangkang siput.")
"Oo la sala Bastio. Hau nafatin o nia subrinho."
("Kau tidak salah Bastio, aku tetap saudaramu.")
"Obrigado papa dok."
("Terima kasih pak dok.")
Hanya itu perbincangan kami. Viqeqe termasuk wilayah hot spot dan menjadi salah satu basis perjuangan Falintil.

Di koran lokal, termuat berita perkelahian antar warga di pasar Becora. Entah apa pencetusnya, dari Sertu Pedro ada informasi bahwa penusuk Sebastio adalah anggota salah satu milisi ormas pamswakarsa. Beberapa hari kemudian, dr. Yobi kembali meneleponku, memberi kabar duka bahwa Sebastio meninggal karena sepsis pasca operasi.

*****

Awal bulan Mei 1999 aku meninggalkan Dili karena dokter pangkalan penggantiku telah datang. Hingga seperempat jam setelah KRI jenis Landing Ship Tank (LST) yang kutumpangi lepas tali dari dermaga Dili, aku masih berdiri di railing kapal menatap pantai dan gedung terminal penumpang pelabuhan Dili. Sebelum meninggalkan Dili, bersama seluruh perwira kami telah menyusun rencana kontinjensi. Hal ini untuk mengantisipasi kedaruratan situasi pasca jajak pendapat yang ditawarkan Presiden Habibi. 

Ini seperti peran peninggalan bila kapal tak bisa dipertahankan dan terancam akan tenggelam. Komandan Lanal telah menghitung risiko terburuk pasca jajak pendapat dan kemungkinan timbulnya konflik horizontal. Juga seluruh keluarga terutama wanita dan anak diprioritaskan menggunakan KRI untuk dibawa ke pangkalan TNI AL terdekat di Kupang.

Di tepi railing kapal, saat itu aku membayangkan kelak masa depan Timor Timur. Dalam bidang kedokteran terdapat istilah prognosis penyakit "dubia ad malam," artinya ragu-ragu ke arah perburukan. Seperti itulah kemungkinan nasip Provinsi Timor Timur. Sebaliknya bagi pejuang Timor Lorosae, masih "dubia ad bonam," artinya ragu-ragu ke arah membaik atau keberhasilan. 

Lima bulan kemudian, 30 Agustus 1999, jajak pendapat dimenangkan pendukung prokemerdekaan Timor Timur. Keberhasilan perjuangan yang tidak bisa dinikmati Sebastio. Bayangan kebaikan Sebastio bergelayut dalam kenanganku. 

Namun kebaikan seorang Sebastio tidak pernah akan sebanding dengan kesedihanku mengenang ribuan prajurit yang gugur mempertahankan integrasi Timor Timur dalam bingkai NKRI. Ada benturan nilai, bagaimanapun pilihan sikap Sebastio, sejatinya selaras dengan narasi konsitusi Indonesia "bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa." (pw)

Pudji Widodo,
Sidoarjo, 6 Maret 2022 (102).

Catatan : Kecuali Lanal Dili dan sejarah integrasi Timor Timur, cerita ini hanya fiksi belaka. Jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Fiksi Cerpen ini dapat dibaca dengan klik : www.eskaber.com



Bawalah aku pergi

Ilustrasi : iStockphoto/Motortion via CNN Indonesia , 24/5/2022. Bawalah aku pergi Pelan tapi pasti Rully merasu...