Senin, 13 Juni 2022

Kita yang mana Mas

Kita yang mana Mas ?

(Ilustrasi TTM, sumber gambar : me.me)

Oleh : Pudji Widodo

Kisah Sebelumnya 

Wening dan Kalvin

Sampai di rumah, Kalvin yang menyambutku.
"Pulang dari Malang, Mami langsung tidur Pi."
 Hari ini Wening memang ada tugas ke Malang. Kupandangi wajahnya, dengkur halus napasnya membuatku tak tega membangunkannya.

"Papi mau lemon tea ?" Kalvin mencoba menggantikan peran maminya.
"Cangkir kecil aja ya,"
Sementara Kalvin menyedu lemon tea, aku menghapus jejak berbalas pesanku dengan Rully sepanjang perjalanan pulang kantor. Satu langkah awal menutup kebohongan. 

Kalvin meletakkan secangkir lemon tea di meja kerjaku lalu melanjutkan merangkai model kit kapal Titanic. Anak tunggalku ini gemar mengoleksi action  figure super hero, diecast mobil pemadam kebakaran, aneka model kit mesin perang. Dia membeli semua itu dengan uang tabungannya sendiri.

Awalnya aku membelikan action figure Batman, Hulk dan miniatur Batmobile untuk menebus kekurangan perhatianku kepada Kalvin. Aku hampir tak pernah mengikuti tumbuh kembang Kalvin sampai dia klas 2 SMP. Mutasi dan tugas kantorku membuat Wening mandiri membesarkan Kalvin. 

Di usia satu tahun Kalvin mengalami luka bakar ringan di perut dan pahanya. Saat itu baby walker-nya menabrak meja makan dan menumpahkan teh yang baru saja disedu di teko dengan air mendidih. Aku berada di Jakarta ketika Wening membawa Kalvin ke IGD rumah sakit. 

Berkat pertolongan pertama yang tepat, luka bakarnya tak menimbulkan bekas permanen. Wening sudah mengguyur area luka dengan air mengalir. Hal ini dilakukan agar panas tidak menjalar ke jaringan yang lebih dalam. 

Ketika Kalvin mengalami kejang demam di usia satu setengah tahun aku sedang di Halmahera. Di usia pra TK, Kalvin sudah bisa membaca dan itu dipamerkan via telepon saat aku di Maumere. Tahun pertama Kalvin di TK, bersama sepupunya yang seumur hampir saja dia membuat rumah terbakar. Saat itu aku berada di Sorong.

Begitulah hampir semua urusan domestik Wening yang membereskan. Ini terkait kesepakatan kami, Wening yang pegawai negeri menetap di Surabaya, sedang aku yang kuli perusahaan asing nomaden. Situasi ini mendorong Wening menjadi perempuan perkasa.

Wening hadir dalam hidupku dalam suatu rapat bakti sosial. Aku mewakili kantor sebagai mitra pendukung dana  Corporate Social Responsibility (CSR) sementara Wening sedang melaksanakan KKN di lokasi baksos. Wening seperti kunci yang mampu membuka kembali gembok kotak erotis yang lama tertutup rapat. Entah kenapa selama kuliah dan setahun bekerja tak ada satu pun perempuan yang menarik perhatianku. 

Lalu kini muncul kembali sosok Rully. Ada satu pesan pada awal kami mulai menjalin komunikasi kembali begini : "dalam hening malam melintas seseorang yang sudah tenang dengan keluarganya, apakah ini zina batin?" Lalu aku menggodanya dengan ganti mengirim grafiti meme berbagai bentuk pertemanan TTM.

"Terus kita yang mana Mas ?" Sejak bertemu kembali, Rully memanggilku Mas.
"Aku mau yang Teman Tapi Mencintai dan Teman Tapi Menyayangi." Aku melanjutkan godaanku. Sehari kemudian di kolom info WAnya tertulis "you are mine."

*************************************

Vivere pericoloso

Aku mencermati perubahan sikap Rully. Terjebak romantika masa lalu, tulus atau  bentuk petualangan. Tapi apapun motivasinya, jujur aku menikmatinya. Tak ada niat di benakku untuk menghindar.

Ini paradoks dengan saat aku kuliah dengan penuh semangat untuk mengalihkan semua perhatianku kepada Rully. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pelestari Bumi dan Alam (Wapeba) dan UKM Fotografi Citra Merdeka menyita waktuku. Apa lagi setelah pada tahun kedua kuliah aku terima surat Rully.

Rully yang tidak tahu alamatku tinggal di Semarang mengirim surat itu ke alamat rumah di Surabaya.
"Pras aku mau menikah. Meski tidak dalam suasana bahagia, tapi itulah perjalanan yang mesti aku lalui. Aku hanya tetap merasa perlu memberitahumu." 

Anehnya selama itu aku sering bertemu Rully dalam mimpi. Rupanya dalam realita seakan Rully telah hilang dari hidupku, namun tidak dalam alam bawah sadarku. Fenomena ini sesuai pendapat Sigmund Freud bahwa mimpi merupakan jembatan antara dunia eksternal dengan perasaan, kesan maupun keinginan terpendam.

Kini mimpi itu menjadi nyata. Rully kembali berhasil mengusik ketenangan hidupku. Seperti gelombang tsunami yang meruntuhkan semua bangunan di pantai. Runtuh pula semua niat untuk melupakan masa lalu. Riang gejolak asmara remaja telah bertransformasi menjadi gelora cinta manusia dewasa.

Lalu segalanya mengalir seperti air yang mencari ceruk rendah mengikuti gravitasi. Rully mengisahkan perlakuan kekerasan suaminya pada salah satu periode hidupnya. Meski hal itu berhasil dilewatinya seiring kemampuan Rully menanggung kebutuhan ekonomi keluarganya.

Sementara suaminya mengalami disabilitas pasca operasi aneurisma pembuluh darah otak yang menyebabkan suaminya stroke. Hilang kegarangan fisik dan verbalnya, juga tak mampu lagi bekerja. Rully juga mengisahkan di saat-saat seperti itu beberapa pria yang mencoba mengajaknya menikah dan meninggalkan suaminya yang sakit.

"Aku tidak mendramatisasi Mas. Itulah yang sesungguhnya terjadi."
"Lalu soal lamaran para pria itu?"
"Hidup bersama Yunan adalah risiko pilihan, aku akan jalani sampai maut memisahkan kami."
"Bagaimana dengan kita?"
"Beda, sejak kita bertemu, aku seperti masuk ke pusaran air dan tak mampu keluar."
"Aku pun begitu"
"Selamat datang cinta, sampai besok ya Mas."

Itulah model komunikasi kami, berbalas pesan di tengah hari kerja dan segera menghapusnya sebelum sampai di rumah. Kembali menjalin kasih tanpa merusak bangunan yang sudah ada. Sampai kapan kami akan ber-vivere pericoloso ?

Bagi Rully mungkin ada pembenar setelah rangkaian kekerasan yang dialaminya. Tapi apa alasanku untuk menciderai semua kebaikan Wening. Sampai saat itu aku belum menemukan jawabnya (pw).
(bersambung)


Pudji Widodo,
Sidoarjo, 09062022 (115)
Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Sumber gambar : klik  me.me
Cerita fiksi ini telah diunggah di : klik   eskaber.com 13/6/2022.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bawalah aku pergi

Ilustrasi : iStockphoto/Motortion via CNN Indonesia , 24/5/2022. Bawalah aku pergi Pelan tapi pasti Rully merasu...