Sabtu, 29 Agustus 2020

Doa Empat Prajurit

DOA EMPAT PRAJURIT

Oleh : pudji widodo


Empat orang diam membeku dalam perlindungan gelap dini hari. Ibaratnya, jangankan sendawa,  hembusan napas pun bila perlu  disembunyikan. Dari teropong penglihatan malam mereka mengamati situasi fasilitas komunikasi dan radar musuh. Dalam senyap mereka menunggu isyarat bergerak dari komandan timnya. Apa yang terjadi berikutnya sudah jelas membunuh atau terbunuh. Realita yang sudah mereka sadari sejak brifing di ruang operasi, menjelang infiltrasi bawah air dari kapal selam  yang dipilih menjadi  media menyusup ke pantai lawan.

(US Navy SEAL Team, sumber foto :
www.wearethemighty.com, 12/6/2020)

Detik waktu terasa lambat berlalu, memberi kesempatan mereka untuk kontemplasi, meskipun di ruang terpedo kapal selam mereka telah bersama-sama berdoa menurut agama masing-masing. Selesai berdoa, mereka masih menyempatkan memastikan di lengan masing-masing telah melekat lencana bendera negara. 

Bertahun-tahun mereka telah bersama, di basis maupun di berbagai penugasan, namun apakah mereka masih bisa bersama lagi atau justru misi ini membawa mereka ke jalan kematian. Sebuah cara untuk mati yang telah mereka sadari. Kesamaan mereka adalah mati dengan bertanda lencana bendera pusaka negara di lengan, sedang perbedaan mereka adalah pada ritual doa kematian yang dilantunkan karena agama mereka berbeda. Kata amin mengakhiri doa bersama mereka, sebuah kata yang bermakna masing-masing mengamini semua doa yang mereka panjatkan. Kesadaran akan kematian justru menyatukan mereka.

Paradoks dengan pemahaman dan kesatuhatian para prajurit siluman itu,  para elit negeri sibuk memanfaatkan situasi perang, mengangkat narasi pembangkit benci sebagai tangga menuju kekuasaan. 
Di tengah masa transisi menuju pemilu, sang penguasa petahana sibuk membangun spirit perlunya bersatu melawan musuh negara, sementara oposisi mengecam penguasa, negara susah karena penguasa yang menjerumuskan ke jurang peperangan.

Petahana dan opisisi nyaring menawarkan pilihan, yang formal menawarkan program dalam debat nasional. Sementara kelompok buzer menebar kabar tentang lawan politik abal-abal. Prajurit di garis depan tak habis mengerti, saat mereka bertempur di palagan penuh mesiu terbakar, di garis belakang konon ada yang menyerukan perang badar. Prajurit tak peduli, toh mereka tak punya hak pilih. 


Meski hati miris,   negeri berpotensi runtuh, dari luar diserang musuh, namun di dalam ribut tak menyadari potensi disintegrasi. Terhadap musuh prajurit tak takut meski bila maut menjemput. Mereka lebih khawatir dan gamang, kala sesama anak bangsa yang berseberangan pilihan politik nyinyir dengan garang. Mereka seakan lupa pengobanan pendahulu, tak ingat riwayat negeri mula bersatu. 

Di belakang prajurit pengintai debur ombak menderu kencang. Menyamarkan serbuan senyap, alam mendukung sukses mereka, para prajurit perenang tempur menembus gelombang. Di balik lindung tinjau, mereka mencoba tenang, lupakan sengketa anak bangsa dalam mendukung calon pemimpin yang terobsesi menjadi pemenang. 
Di medan tugas, prajurit menaruh asa, persaingan politik dilaksanakan dalam koridor etika. Siapapun pemenangnya, dialah yang kelak menjadi panglima, dan prajurit sudah bersumpah setia.

Tak lama,  ingatan tentang situasi garis bekakang terhenti. Kulminasi titik tunggu tercapai,  dua orang operator musuh membuka pintu bergerak ke arah para prajurit pengintai mengendap, mungkin giliran dua orang musuh itu melakukan patroli keliling instalasi. Orang-orang ini berprinsip sama dengan para pengintainya, membunuh atau dibunuh, bahkan semalam mungkin diantara dua orang itu telah sembahyang dan beragama sama dengan salah satu pengintainya.

Di antara pengintai paham tugasnya, peluru dari senapan berperedam telah dilesatkannya, kedua operator musuh tumbang mati dalam senyap. Empat prajurit sabotir bergerak maju ke sasaran sesuai rencana. Sebuah rencana  yang mungkin akan membawa mereka kepada kematian lalu menuju keabadian. Sesuai takdir Allah menurut prajurit pertama dan kedua meski berbeda mazhab, kembali kepada Tuhan Trinitas yang Esa menurut prajurit ketiga dan kehendak Ida Sang Hyang Widi Wasa menurut prajurit keempat.

Dharma prajurit yang berujung kematian telah mereka sadari. Mungkin sebentar lagi ganti mereka menyusul kedua musuh yang telah mereka binasakan.  Mereka telah berdoa bersama, meski berbeda, tanpa saling mengkafirkan.

Ini kisah di negeri  Nusaloka, bagaimana kisah di negeri anda?


Bendungan Hilir, 08032019.
(Teriring hormat kepada tiga prajurit Satgas Gakkum TNI yang gugur di Nduga Papua 7 Maret 2019).

Cerpen ini telah diunggah di www.kompasiana/pudji83367, 8/3/2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bawalah aku pergi

Ilustrasi : iStockphoto/Motortion via CNN Indonesia , 24/5/2022. Bawalah aku pergi Pelan tapi pasti Rully merasu...